<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju Insan Smart</title>
	<atom:link href="http://abihafiz.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abihafiz.wordpress.com</link>
	<description>Mencari Jatidiri sebagai Hamba</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Nov 2009 01:33:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abihafiz.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/22bb1508dcafe3419ffe1d021b032a2f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menuju Insan Smart</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>BERMAIN DALAM PENDIDIKAN ANAK</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/19/bermain-dalam-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/19/bermain-dalam-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 01:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=758</guid>
		<description><![CDATA[BERMAIN DALAM PENDIDIKAN ANAK
Written by Salamah
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi  kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.
Jika pengertian bermain dipahami dan sangat kita kuasai, maka kemampuan itu akan berdampak positif pada cara kita dalam membantu proses belajar anak.  Pengamatan ketika anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=758&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>BERMAIN DALAM PENDIDIKAN ANAK</p>
<p>Written by Salamah</p>
<p>Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi  kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.</p>
<p>Jika pengertian bermain dipahami dan sangat kita kuasai, maka kemampuan itu akan berdampak positif pada cara kita dalam membantu proses belajar anak.  Pengamatan ketika anak bermain secara aktif maupun pasif, akan banyak membantu memahami jalan pikiran anak, selain itu akan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.  Pada saat bermain kita perlu mengetahui saat yang tepat bagi kita untuk melakukan atau menghentikan intervensi.  Karena bila tidak memahami secara benar dan tepat, hal itu akan membuat anak frustasi atau tidak kooperatif dan sebaliknya.  Dari bahasa tubuh si anak pun kita sudah dapat mengetahui kapan mereka membutuhkan kita untuk melakukan intervensi.<br />
<span id="more-758"></span>Pemahaman tentang bermain juga akan membuka wawasan dan menjernihkan pendapat kita, sehingga akan dapat lebih luwes terhadap kegiatan bermain itu sendiri, dan akibatnya akan mendukung segala aspek perkembangan anak.  Yang dimaksudkan adalah kita dapat memberi kesempatan yang lebih banyak kepada anak-anak untuk bereksplorasi, sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian dasar suatu pengetahuan dapat dipahami oleh anak dengan lebih mudah.</p>
<p>Montessori, seorang tokoh pendidikan menekankan bahwa ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya.  Untuk itu, perencanaan  dan persiapan lingkungan belajar anak harus dirancang dengan seksama sehingga segala sesuatu dapat merupakan kesempatan belajar yang sangat menyenangkan bagi anak itu sendiri.</p>
<p>Frobel menyatakan bahwa imajinasi merupakan dunia anak.  Setiap benda yang dimainkan berfungsi sesuai dengan imajinasi anak.  Misalnya, penggaris yang dipegangnya dapat dianggap sebagai pesawat terbang.  Ia juga mencipta kotak kubus yang terdiri dari kubus kecil-kecil dan kemudian berkembang menjadi susunan balok yang beraneka bentuk dan ukuran.  Yang perlu diperhatikan adalah kita dapat memperlihatkan kepada anak adanya hubungan antara satu balok dengan balok berikutnya.  Pada kesempata itu pula anak dapat mempraktekan konsep bahasa, semua itu terjadi pada saat anak bermain.</p>
<p>Dalam proses perkembangan anak melalui bermain, kita akan menemukan 2 istilah yang berbeda yaitu Learning resources dan Educational toys and games.  Seperti yang dikembangkan oleh Piaget (1961) bahwa terdapat beberapa tahapan intelektual anak yaitu:<br />
•    Usia 0 – 2 tahun disebut masa sensorimotor<br />
•    Usia 2 – 7 tahun disebut masa pra-operasional<br />
•    Usia 7 – 11 tahun disebut masa konkrit operasional<br />
•    Usia 11 – 14 tahun disebut masa formal operasional<br />
Pada kedua masa pertama, panca indera berperan sangat besar.  Anak memahami pengertian atau konsep-konsep lewat benda konkrit.  Dengan bermain, anak mendapatkan masukan-masukan untuk diproses bersama dengan pengetahuan apa yang dimilikinya</p>
<p>Sedangkan Montessori (1966) menyatakan bahwa lingkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk menyenangi pembelajarannya.  Bermain dengan media permainan yang dipersiapkan menjadi penting.  Belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya.  Disinilah proses pembelajaran terjadi.  Mereka mengambil keputusan, memilih, menentukan, mencipta, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mengeluarkan pendapat dan memecahkan masalah, mengerjakan secara tuntas, bekerja sama dengan teman dan mengalami berbagai macam perasaan (Mayke, 1995)</p>
<p>Bagaimana sebaiknya peran orang dewasa ketika anak sedang bermain ?  Menurut Hughes (1995) menyatakan ada 5 pandangan utama tentang peran kita ketika anak sedang bermain yaitu:<br />
Partisipasi aktif dari orang tua, guru dan pendamping akan sangat bermanfaat bagi anak dalam bermain sebagai contoh dalam acara bermain teh, tamu-tamuan atau bermain supermarket.<br />
Kita berperan sebagai fasilitator.  Contohnya ketika kita bermain jual-jualan.  Kita dapat melontarka pertanyaan seperti    berapakah harganya ?, apakah disini jual susu kotak ? atau apakah harganya bisa dikurangi ? dan contoh-contoh lain.  Dalam suasana santai, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memacu anak untuk memberikan jawaban secara spontan.<br />
Intonasi yang tidak tinggi dan berbicara dengan lembut dapat digunakan untuk menghadapi anak yang  perilakunya kurang baik.  Dengan kelembutan itu kita akan lebih mudah menyentuh perasaan anak.  Usaha guru   adalah membuat anak mampu menentukan sendiri bagaimana memperbaiki sikapnya.  Namun kelembutan yang dimaksud tidak boleh diartikan menuruti  semua kemauan anak yang berakibat timbul kesan guru tidak tegas/konsisten.  Kelembutan dan kesabaran sangat diperlukan untuk membangun komunikasi dengan anak.  Diharapkan dengan sikap-sikap kita yang lembut dan sabar mampu membantu mereka untuk berpartisipasi secara  aktif dalam membuat segala bentuk peraturan yang berlaku dalam setiap permainan.<br />
Ketika berkomunikasi dengan anak, kita perlu memperhatikan bahasa tubuh mereka.  Bahasa tubuh merupakan             ungkapan dari anak ketika mereka sulit memformulasikannya dalam bentuk kalimat.  Tuntunan kepada anak untuk         menformulasikan pikiran harus diperhatikan.  Misalnya pembetulan kalimat-kalimat mereka tidak boleh dipaksakan.  Perbaikan dapat dilakukan dengan melakukan pengulangan ujaran anak yang bukan merupakan  penggalan kata atau kalimat.<br />
Setiap anak memiliki keunikan sendiri.  Dalam bermain kita dapat melihat berbagai keunikan itu secara nyata.  Misalnya ada anak yang konsentrasi  menyelesaikan satu proses kegiatan, tapi ada juga yang cepat sekali berpindah kegiatan atau perhatiannya.</p>
<p>Sumber:<br />
Anggani S.   2000. Sumber belajar dan alat permainan. Grasindo<br />
Hughes, F.  1995.  Children, play and development.<br />
Montessori, M.  1966.  The absorbent mind.  Fides Publ.</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, guru, orang tua dan anak, pendidikan, prilaku, psikologi, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/758/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=758&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/19/bermain-dalam-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Umur Memberi Keindahan</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/18/agar-umur-memberi-keindahan/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/18/agar-umur-memberi-keindahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 07:23:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[Agar Umur Memberi Keindahan
Oleh: Ustadz Sulthan Hadi
Umur manusia adalah sebuah rangkaian waktu yang diberikan Allah swt untuk menjalani hidupnya di dunia, dengan batas yang telah Dia tentukan. Tidak ada perbedaan yang esensi antara umur seseorang dengan seorang yang lain; umur tidak memberi pengaruh pada kebahagiaan, atau pada kesengsaraan; tidak pada kesuksesan atau pada kegagalan. Tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=753&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Agar Umur Memberi Keindahan</p>
<p>Oleh: Ustadz Sulthan Hadi</p>
<p>Umur manusia adalah sebuah rangkaian waktu yang diberikan Allah swt untuk menjalani hidupnya di dunia, dengan batas yang telah Dia tentukan. Tidak ada perbedaan yang esensi antara umur seseorang dengan seorang yang lain; umur tidak memberi pengaruh pada kebahagiaan, atau pada kesengsaraan; tidak pada kesuksesan atau pada kegagalan. Tetapi umur justru memberi persamaan dalam proses pertumbuhan kita sebagai makhluk hidup, di mana setiap orang pernah merasakan masa kecil, lalu remaja, kemudian tumbuh menjadi dewasa, dan selanjutnya menjadi tua. Tak satu pun manusia di dunia ini yang memulai umurnya dari tua menuju muda, lalu menjadi anak-anak. Tidak ada. Perbedaan dalam umur hanya pada jatah yang telah Allah tentukan untuk setiap jiwa. Maka ada orang yang hidup dengan umurnya sampai kakek-kakek, namun ada juga yang hanya berumur sampai remaja, atau pemuda, atau bahkan lebih singkat dari itu.</p>
<p>Menemukan dan mendapatkan keindahan dalam umur, atau keberkahan dalam bahasa agama kita, adalah hal yang harus dicapai dengan berbuat dan berusaha. Usaha inilah yang kelak akan membedakan warna hidup kita dengan orang lain. Inilah yang mesti dilakukan, dan tentu saja harus diperbanyak. Karena tanpa keindahan yang kita ciptakan, maka umur itu akan berjalan hambar, sia-sia, dan tak berbekas. Padahal umur itu, sebagai sebuah pemberian dari Allah, ada pertanggungjawabann ya. Dan tentu saja, hanya saat-saat yang indah itulah dan proses mencapainya, yang akan menolong kita di hadapan Allah swt. <span id="more-753"></span>Ketika kita hidup di tengah manusia dan tidak membebani mereka dengan perbuatan tak terpuji<br />
Islam, itulah kata indah dan keindahan yang diridhai Allah swt untuk hamba-hamba- Nya. Dia mengutus para rasul-Nya untuk membawa dan menyebarkan Islam agar alam ini dan segala isinya menjadi indah. Maka ketika kita menyatakan diri sebagai Muslim, sesungguhnya kita sedang mengemban misi keindahan untuk segenap alam ini, minimal bagi lingkungan di mana kita tinggal. Dan ketika misi itu berhasil kita jalankan, ketika itu pula kita berhasil menorehkan keindahan di setiap detik perjalanan umur kita.<strong> </strong></p>
<p>Di luar Islam adalah kekufuran, dan itulah sumber malapetaka serta kehancuran di muka bumi ini. Allah menghancurkan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang Islam dari kekufuran mereka. Allah berfirman, &#8220;Maka kami keluarkan orang-orang beriman yang ada di dalammnya (negeri kaum Luth). Dan tidak Kami dapatkan di sana kecuali sebuah rumah dari orang-orang Islam.&#8221; (QS. Adz Dzariyat: 35-36)</p>
<p>Menjadi Muslim dan hidup di tengah masyarakat dengan memberi keindahan adalah ajaran sekaligus perintah dalam Islam. Dalam ayat- Nya, Allah swt berfirman, &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS.An-Nahl: 90)</p>
<p>Ayat ini tidak hanya datang sebagai perintah, tetapi juga menjelaskan apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjadi pribadi yang baik, atau sebuah elemen yang akan berperan membentuk satu masyarakat yang harmonis dan padu. Ayat ini menawarkan kita tiga prinsip untuk dijadiikan landasan dalam hidup bermasyarakat. Tiga prinsip itu adalah keadilan, ihsan, dan takaful. Ketiganya, jika diaplikasikan dengan baik oleh setiap orang, maka ia akan mampu membendung tiga perilaku buruk: al-jahsya&#8217;, segala perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu, seperti zina dan mabuk-mabukan; al munkar, perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat, seperti mencuri, merampok, dan tindakan aniaya lainnya; dan al baghyu, tindakan yang mengarah kepada permusuhan, seperti kezaliman dan tindakan sewenang-wenang.</p>
<p>Al fahsya&#8217;, al mungkar, dan al baghy adalah perilaku merusak. Ia adalah penyakit yang senantiasa menciptakan keonaran, merongrong keutuhan dan eksistensi maasyarakat. Sebuah masyarakat tidak mungkin bisa tegak jika di antara individunya ada yang akrab dengan perilaku keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dan jika masyarakat telah terjangkiti perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan dengan seegala ragam bentuknya, tidak akan mungkin bangkit dari keterpurukan. Bahkan akan senantiasa berada dalam kesengsaraan.</p>
<p>Ayat ini, sekali lagi, adalah perintah. Ia menyeru setiap kita untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Islam, ajaran yang menjadi panduan kita dalam hidup bermasyarakat. Dengan menjalankan tiga prinsip di dalamnya, maka kita sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat, tentu akan mampu memberi kenyamanan di tengah-tengah mereka, tidak mengundang petaka dan kerusakan.</p>
<p>Saat kita mampu mengaktualisasikan hal-hal tersebut; menjadi manusia yang memberi kesejukan dan ketenangan, sesungguhnya kita tengah merangkai masa-masa indah dalam umur kita. Umur kita akan dikenang orang, meski mungkin kita telah tiada.</p>
<p><strong>Ketika kita berusaha melawan tipu daya syetan dan kembali kepada Allah, mengetuk pintu-Nya, lalu Allah membukanya dan menerima taubat kita </strong></p>
<p>Suatu malam yang hening, terlihat seorang lelaki berjalan-jalan di sekitar Madinah dalam keadaan lapar. Dia berhenti di luar sebuah rumah karena hidungnya mencium aroma makanan. Tampaknya, iman dalam dirinya belum cukup kuat untuk menuntun perilakunya. Karena tergiur dengan makanan itu, dia menyusup masuk ke dalam rumah tersebut tanpa izin.</p>
<p>Namun, ketika dia hendak mengulurkan tangannya untuk menggapai makan tersebut, tiba-tiba dia teringat satu pesan Rasulullah saw yang pernah didengarnya, &#8220;Barangsiapa meninggalkan yang haram, dia akan mendapat yang halal.&#8221; Mengingat kata-kata itu, dia urung mengambil makanan tadi.</p>
<p>Dia hendak segera pergi, tapi godaan lain berkelebat di depan mata. Sebuah bungkusan menarik perhatiannya. Segera bungkusan itu digenggamnya, dengan rasa yakin tak ada orang yang tahu. Namun sekali lagi niat jahatnya dilumpuhkan oleh pesan Rasulullah saw, &#8220;Tinggalkan yang haram, engkau akan dapat yang halal.&#8221; Diletakkannya kembali barang berharga itu seraya membatin, &#8220;Haram mengambil barang milik orang lain.&#8221;</p>
<p>Belum sempat melangkah keluar, matanya menangkap godaan lebih hebat. Dadanya berdebar kencang melihat seorang perempuan cantik sedang terlelap di atas kasurnya. Perlahan dia mendekat. Tangannya bergetar, peluh pun mengalir membasahi tubuh. Nafsu membisikkan kata-kata indah ditelinganya, namun pesan Rasulullah kembali kencang tergiang, &#8220;Tinggalkan yang haram, akan kau dapatkan yang halal.&#8221;</p>
<p>Dia pun beristighfar sembari perlahan melangkah pergi, membawa pesan Rasulullah saw yang melekat di sanubarinya. Dia berhasil mematahkan keinginan nafsunya. Lega di hatinya sangat terasa begitu kakinya telah menapak di masjid Nabi, seusai &#8216;perang sengit&#8217; melawan godaan syetan. Selesai shalat Shubuh berjamaah, lelaki itu merebahkan diri di lantai masjid, karena rasa kantuk yang tak kuasa ia lawan.</p>
<p>Setelah matahari meninggi, seorang perempuan datang menjumpai Rasulullah saw di masjid. Dia mengadu rumahnya dimasuki orang. Dia takut hal itu terjadi  lagi, lalu meminta kepada beliau seorang  pengawal yang dapat menjaga rumah dan hartanya. Rupanya dia seorang janda.</p>
<p>Rasulullah memandang sekelilingnya, kalau-kalau ada orang yang dapat menjaga wanita itu. Matanya tertuju pada sosok lelaki sedang lelap di sudut masjid. Beliau pun menemui dan menanyainya, adakah  dia telah beristeri. &#8220;Saya seorang duda,&#8221; jawab lelaki itu singkat. Beliau lalu bertanya kepada si wanita dan si lelaki, apakah keduanya bersedia menjadi suami istri.  Keduanya tampak tersipu malu mendengar tawaran Rasulullah.</p>
<p>Teringat perbuatannya semalam, lelaki itu tidak dapat menahan diri daripada ( menangis lalu menceritakan apa yang sebenarnya berlaku di rumah wanita tersebut. Dia bertaubat. Dan akhirnya Rasulullah saw menikahkan lelaki dan wanita itu dengan disaksikan oleh para Sahabat. Berkat meninggalkan yang haram, dia mendapat yang halal sebagai gantinya. Kini, wanita cantik itu dan segala di dalam rumahnya menjadi halal baginya.</p>
<p>Godaan syetan selalu datang di sepanjang umur kita. Tetapi umur itu akan menjadi indah, jika pada saat godaan itu datang kita mampu menahan diri, menekan nafsu, melawan syetan agar bisa terhindar dari perangkap yang membinasakan, seperti halnya lelaki dalam kisah ini.</p>
<p><strong>Ketika kita tersenyum dengan jujur mengghadapi kesulitan hidup kita, lalu hati dan jiwa kita pun tertawa</strong></p>
<p>Hidup adalah perjalanan yang selalu diiringi masalah. Sepanjang kita masih berrnafas, masalah dan kesulitan akan menjadi bagian dari pengalaman keberadaan kita di dunia.</p>
<p>Pada keadaan tertentu, kita mungkin diberkahi dengan keberuntungan, ke suksesan, pujian, dan kegembiraan yang membuat kita berpuas lega. Di keadaan lain, mungkin pula kita berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan seperti kegagalan, difitnah, dizalimi, atau ditimpa satu penyakit yang membuat kita sedih dan menangis. Hidup berayun laksana pendulum. Satu saat, ia berada di tempat yang enak, disambut dengan hati yang berbunga. Saat lain ia berayun menuju keadaan yang tidak ramah, yang sungguh ingin kita hindarkan. Kadang keinginan kita bertemu dengan keinginan Allah, sehingga saat itu hidup ini terasa indah, bahagia dan menyenangkan. Namun kadang juga keinginan kita berlawanan dengan keinginan Allah, lalu dunia serasa begitu sempit, hidup bagai terpenjara.</p>
<p>Kesenangan mungkin bisa membuat kita tersenyum. Kesuksesan juga tentu dapat membuat kita tertawa. Namun, sanggupkah kita tersenyum dan tertawa di saat sedang ditimpa kesulitan dan kegagalan. Rasanya sangat sulit melakukannya, sebab keadaan itu memang terlihat bertolak belakang dari kata senyum dan tawa. Tapi bagi orang yang sanggup melakukannya, dialah orang yang mulia. Dialah manusia yang mampu menghargai usianya. Dialah sosok yang biijak, yang mampu memperbanyak saat-saat indah dalam hidupnya.</p>
<p>Ella Wilcox berkata, &#8220;Cukup mudah untuk bergembira, tatkala hidup mengalun seperti lagu. Namun manusia yang mulia adalah ia yang bisa tersenyum. Ketika segalanya jadi salah, kerena kesulitan adalah ujian bagi hati yang selalu datang bersama tahun. Senyum yang berharga pujian dunia adalah yang bersinar dari air mata.&#8221;</p>
<p>Ketika kesulitan datang, kita tidak boleh menjadi kecil. Sebaliknya, tersenyumlah dan bertindaklah bijaksana untuk mengatasinya. Sebab tak ada orang yang masih memikirkan keduniawian yang bisa lepas dari masalah. Jadi, bukan orangnya yang membedakan seorang yang bijak dari yang tidak bijak, melainkan cara ia menghadapi masalah.<strong> </strong></p>
<p>Suatu kali, Nehru pernah berkata, &#8220;Kita harus menghadapi masalah dan menyelesaikannya: Mau tak mau kita harus menghadapinya. Tentunya, dengan berdasarkan pada ajaran spiritual; tapi jangan melarikan diri darinya atas nama spiritualisme. &#8220;</p>
<p>Sedang seorang penyair masyhur di India, DR Rabindranath Tagore, dalam syairnya menjelaskan bagaimana menghadapi masalah tanpa takut dan cemas, &#8220;Semoga aku tak rindu diselamatkan dari  takut, tapi berharap pada kesabaran untuk memenangkan kebebasan.&#8221;</p>
<p>Kondisi sulit itu, jika kita tidak mampu menerimanya secara ikhlas, tersenyum jujur menghadapinya, bukan tidak mungkin dia akan memangkas umur kita. Betapa banyak orang nekat menghabisi diri sendiri karena merasa lelah dengan situasi sulit. Tapi apakah masalah akan selesai dengan itu? Jawabannya, tentu tidak.</p>
<p>Maka yang terbaik untuk kita lakukan dalam situasi itu adalah, tersenyumlah dengan jujur dan ikhlas, bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah dan pasti ada akhir dan jalan keluarnya. Sebab dengan begitu, hidup ini akan terasa mudah. Umur kita pun akan menjadi lebih indah karena terhindar dari jebakan-jebakan yang memandegkan.</p>
<p><strong>Ketika kita tetap mampu berbagi dengan orang lain, dalam kondisi kita yang juga sedang kekurangan<br />
Ketika hidup terasa serba sulit, seperti yang sering kita alami di zaman ini; memikirkan diri sendiri bisa jadi sudah merupakan warna paling kentara dalam keseharian kita. Padahal, berpikir hanya untuk diri sendiri merupakan akar bagi tumbuhnya sikap individualis. Dan ketika seseorang sudah mementingkan dirinya sendiri, maka lupalah ia akan sendi-sendi pengikat yang menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sebab jika setiap orang sudah berlaku seperti itu, tentu sudah sulit atau enggan mendengarkan suara yang sayup berbisik melalui hati nurani. Jangan tanyakan lagi apa pedulimu kepada orang lain. Karena tanpa hati nurani, kepedulian kepada orang lain sudah dengan sendirinya berubah menjadi jenazah, yang tak mungkin kunjung bangkit hidup kembali.
<p>&nbsp;</p>
<p></strong></p>
<p>Memberi. Sebuah kata yang penuh misteri. Mengapa kita harus memberi kalau hidup kita sendiri saja sudah sesusah ini? Sebuah pertanyaan yang beralasan. Terutama jika hidup kita sudah diliputi oleh semangat materialisme yang membutakan hati. Dengan demikian, sudah pasti hanya sedikit manusia yang bisa memberi kepada orang lain.</p>
<p>Tetapi memberi sebenarnya tidak hanya sebatas pada materi. Sesuatu manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain melalui tenaga, pikiran dan pandangan kita, juga disebut dengan memberi. Karena itu, memberi sesungguhnya tidaklah terlalu sulit. Kita bantu seseorang dalam melakukan kebaikan atau mencegahnya dari perbuatan buruk, itu pun sudah merupakan manfaat yang besar.</p>
<p>Sebisa mungkin kita harus melakukan sesuatu. Apapun bentuknya. Seperti kata Yahya bin Mu&#8217;adz radhiyallahu anh, &#8220;Sebagai seorang Muslim hendaknya engkau mempunyai tiga hal yang positif: Jika tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, maka janganlah engkau memberiikan mudharat kepadanya. Jika tidak mau memujinya, maka janganlah menjelekkannnya. Dan jika engkau tidak bisa membuatnya bahagia, maka janganlah membuatnya bersedih.&#8221;</p>
<p>Memberi atau berbagi dengan sesama dalam keadaan kita tidak punya, tentu saja sulit. Tetapi jika kita mampu melakukannnya, itulah keindahan yang berhasil kita ciptakan dalam umur kita. Suatu saat nanti, perilaku mulia itu akan kita saksikan sebagai pemberat timbangan kebaikan dalam mizan-Nya Allah swt, atau sebagai pembela saat umur itu harus dipertanyakan untuk apa ia dihabiskan. Indah pasti, apalagi ketika semua orang merasa rugi karena tidak melakukan yang terbaik ketika umur itu masih menyertainya.</p>
<p><strong>Ketika kita kembali ke keluarga dan menndapati mereka sebegai energi untuk me1annjutkan kehidupan </strong></p>
<p>Umur kita umumnya lebih banyak diihabiskan di dua tempat; di rumah dan di tempat kerja. Di rumah, umur dihabiskan bersama keluarga; bersantai dan beristirahat. Di tempat kerja, umur kita dihabiskan untuk mencari nafkah untuk diri dan keluarga.</p>
<p>Rumah dan keluarga adalan tempat kita menumpahkan cinta. Sedang kantor adalah tempat kita mencari penghidupan sebagai bentuk pengorbanan kita demi cinta kita kepada orang-orang yang ada di rumah. Umur kita di dua tempat itu, terlebih di rumah akan menjadi indah dan akan terasa sangat indah jika ia menjadi miniatur surga untuk hidup kita yang hanya sebentar ini. Orang-orang di dalamnya menjadi sumber energi yang terus memberi semangat kepada kita untuk melakukan apapun demi melanjutkan kehidupan kita dan mereka.</p>
<p>Seorang kepala keluarga bernama Suyatno, 58 tahun, mengisi lebih dari 20 tahun umurnya dengan bekerja mencari nafkah sembari merawat istrinya yang sakit, dan mendidik dan membesarkan empat orang anaknya hingga semua menikah.</p>
<p>Istrinya menderita lumpuh; seluruh tubuhnya menjadi lemah seperti tak bertulang, dan lidahnya kaku tak bergerak, sejak anak keempatnya lahir. Dari saat itu, setiap hari Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istri nya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, Suyatno membaringkan istrinya di depan tv supaya tidak merasa kesepian.</p>
<p>Sepulang kerja, selepas magrib Suyattno temani istrinya menonton tv sambil menceritakan semua kejadian yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa kata, Suyatno sudah cukup senang, bahkan selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.</p>
<p>Suatu hari, keempat anaknya yang sudah tinggal terpisah bersama keluarga masing-masing, datang menjenguk ibu mereka. Saat itu, mereka berkata kepada Suyatno, &#8220;Sudah empat kali kami mengijinkan Bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkan. Kapan Bapak menikmati masa tua jika terus seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji akan merawat ibu bergantian.&#8221;</p>
<p>Tapi tawaran itu dijawab Suyatno dengan pernyataan yang mungkin tak pernah disangka oleh mereka, &#8220;Anakku. Kalaulah hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak ada satu pun hal yang lebih berharga lebih daripada ini. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahaagia, tapi apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang?&#8221; Anak-anaknya pun menangis mendengar jawaban itu.</p>
<p>Dalam sebuah wawancara dengan salah satu tv swasta, Suyatno ditanya alasannya kenapa bisa bertahan selama 25 tahun merawat istri yang sudah tidak bisa apa-apa. Dia menjawab, &#8220;Manusia di dunia ini sering mengagungkan cinta, tapi mereka tidak mencintai karena Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya. Mencintai saya dengan hati dan batinnya. Bukan dengan mata. Dan dia telah memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu.&#8221;</p>
<p>Begitulah, keluarga menjadi energi untuk tetap melanjutkan hidup, bagaimana pun keadaannya. Dan pada saat kita telah menemukan itu dalam hidup kita, hari-hari kita akan menempuh umur, akan selalu teras indah dan nyaman.</p>
<p><strong>Ketika kita mencapai puncak prestasi sebagai hasil dari kerja keras kita<br />
Prestasi dan sukses itu indah. Tapi dia tidak selalu ada, atau datang dan menyambangi umur kita. Hanya sesekali, dan itu tidaklah mudah. Ya, tentu saja tidak mudah, sebab sukses adalah hasil dari sebuah proses yang terkadang memakan waktu cukup panjang. Dan memang, tak ada sukses yang datang kebetulan. Kalaupun ada, mungkin kita akan menyebutknya sebuah keajaiban.
<p>&nbsp;</p>
<p></strong></p>
<p>Dullah Rochmad, 31, adalah seorang pengusaha koran dengan lebih dari 30 orang karyawan dan beberapa aset bangunan. Capaian itu tentu bisa dibilang sebuah kesuksesan, sebab Dullah memulai usahanya sebagai tukang koran keliling. Laki-laki asal Bandar Kidul, Mojoroto itu mengawali pekerjaannya berjualan koran sejak duduk di bangku kelas 2 MTs, sekitar tahun 1993 lalu.</p>
<p>Waktu itu, Dullah nekat berjualan koran karena tidak ingin sekolahnya puutus. Dia hampir drop out gara-gara tidak memiliki biaya. &#8220;Bapakku tukang becak, ibuku berjualan di pasar. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja kurang,&#8221; kenang Dullah dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p>Sambil terus sekolah, setiap hari Dullah kecil berjualan koran. Mulanya, dia hanya mampu menjual 10 hingga 15 eksemplar per hari. Hasil berjualan koran ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah hingga lulus MAN di Kediri, pada 1997. Lulus sekolah, Dullah tidak ingin jadi pengangguran. Dia meneruskan usahanya berjualan koran.</p>
<p>Sekarang Dullah memetik hasilnya. Dalam sehari, dia menjual hingga 1.000 eksemplar koran lokal, ditambah majalah dan tabloid yang jumlahnya mencapai ratusan eksemp1ar. Jumlah yang tentu saja tidak sedikit, tapi untuk mencapai itu dia harus manghabiskan umurnya hampir 18 tahun. Cukup lama. Tetapi begitulah ritme mencari harta, sukses yang ingin dicapai harus melalui jalan terjal dalam waktu yang lama.</p>
<p>Jika sukses itu ukurannya lulus sekolah, misalnya, maka sejak kita masuk SD sampai selesai sarjana, hanya ada empat kali kita merayakan kesuksesan. Padahal paling tidak kita butuh umur sekitar 15 tahun untuk merampungkan semuanya. Namun, merayakan kelulusan tentulah sebuah moment sangat indah dalam umur kita. Ia adalah kenangan yang mungkin tak terlupakan.</p>
<p>Maka, jika kita tahu dan yakin bahwa prestasi dan sukses itu sesuatu yang indah dalam hidup, maka peluangnya harus selalu kita buka. Kesempatan untuk meraihnya mesti diperluas. Dalam segala aktivitas yang kita jalani harus ada semangat untuk melakukannya dengan baik, sehingga suatu saat pretasi dari hasil kerja itu yang akan bisa kita lihat.</p>
<p>Tetapi jika kita melakukannya bias-abiasa saja, hasilnya pun akan biasa. Umur kita yang terus berjalan, akan terlihat membentang lurus seperti tali; datar dan bahkan ada bagian-bagian yang terlihat melenggkung ke bawah.</p>
<p>Umur kita, meskipun memang tidak bisa selalu menanjak, tetapi harus ada gelombang-gelombang atau lompantan yang menunjukkan bahwa kita mengghargainya, memuliakan setiap detik dan menitnya, menciptakan nilai-nilai positif yang membuatnya indah, berkesan dan berharga. Sebab pada akhirnya nanti, saat-saat indah itulah yang akan membuat kita bangga; di hadapan manusia dan terutama di hadapan Allah swt. []</p>
Posted in Tausyiah Tagged: agama, artikel, islam, muslim, pengajian, religion, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/753/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=753&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/18/agar-umur-memberi-keindahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menemukan AKAR MASALAH</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/menemukan-akar-masalah/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/menemukan-akar-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 05:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[motifasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=747</guid>
		<description><![CDATA[Menemukan AKAR MASALAH (part-1)
Sahabat Solusi, setelah saya memperhatikan dengan seksama, ternyata ketidakberkahan hidup seseorang dan kesulitan seseorang itu untuk hidup berbahagia adalah dikarenakan ia belum mampu menyelesaikan akar permasalahannya. Sehingga masalahnya terus saja menumpuk. Dia baru berhasil menyelesaikan permasalahannya hanya pada titik yang “tampak”, dia belum berhasil melihat lebih dalam, melihat sang akar dari permaslahannya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=747&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menemukan AKAR MASALAH (part-1)</p>
<p>Sahabat Solusi, setelah saya memperhatikan dengan seksama, ternyata ketidakberkahan hidup seseorang dan kesulitan seseorang itu untuk hidup berbahagia adalah dikarenakan ia belum mampu menyelesaikan akar permasalahannya. Sehingga masalahnya terus saja menumpuk. Dia baru berhasil menyelesaikan permasalahannya hanya pada titik yang “tampak”, dia belum berhasil melihat lebih dalam, melihat sang akar dari permaslahannya. Dan, secara garis besar bahwa Akar Masalah itu ada dua macam, pertama akar masalah yang bersifat hablumminallah, dan kedua akar masalah yang bersifat hablumminannas.</p>
<p>Hablumminallah adalah hubungan kita dengan Allah SWT. Ternyata JAUHnya hubungan kita dengan Allah bisa menjadi sebab utama tak pernah terselesaikannya permasalahan-permasalahan hidup kita. Itu sebabnya, boleh jadi Allah hadirkan berbagai masalah itu kepada kita agar kita mau mendekat kepadaNya, agar kita bisa diselamatkan olehNya dari kehidupan yang fana dan penuh gelisah ini. Sehingga, saya memperhatikan diri saya dan beberapa orang yang saya kenal, hampir semua permasalahan yang ada berawal dari renggangnya hubungan dengan Allah SWT. Walaupun boleh jadi mereka itu dikenal sebagai orang yang baik di hadapan masyarakat.</p>
<p>Ini pula lah yang membuat saya menyimpulkan bahwa orang baik yang tidak dekat dengan Allah, hidupnya akan sering dirundung masalah. Sedangkan orang jahat yang tidak dekat dengan Allah tentulah tidak aneh lagi, karena ialah sumber masalahnya. Maka saya menyarankan, kalau Anda ingin menjadi orang baik, maka baiklah dengan sepenuhnya, tidak menjadi setengah baik. Sebab, betapa banyak orang yang “setengah baik” itu yang hidupnya tidak jelas, sebab ia tak berani mengambil sikap yang sejati dalam hidupnya.</p>
<p>Kalau Anda memang ingin hidup bahagia dunia dan akhirat, maka DEKATIlah ALLAH. Karena DIAlah sumber kebahagiaan itu. Jangan sekedar dekati Harta, Tahta, Wanita dan lain sebagainya. Sebab itu semua hanyalah CIPTAAN ALLAH. Dekatilah yang menciptakannya bukan ciptaannya. Jika Anda sudah sungguh dekat kepada Allah SWT, maka berbagai permasalahan Anda yang hadir justru hanya sebagai bumbu kenikmatan Anda dalam bermujahadah dan bermuroqobah kepadaNya.</p>
<p>Sahabat Solusi, berikutnya yang menjadi Akar masalah adalah dari jalur Hablumminannas, yakni hubungan antar sesama manusia. Ternyata saya melihat dari beberapa kasus, terjadinya masalah seseorang adalah karena hubungannya yang tidak baik dengan ibunya. Ia sering kesal dengan ibunya, bahkan ia sering membicarakan kekurangan-kekurangan ibunya di hadapan saudaranya, temannya, tetangganya atau lainnya. Dan ketika berbicara dengan ibunya pun ia sering dengan nada yang kesal, semi membantak.<span id="more-747"></span></p>
<p>Mungkin saja ibunya tidak kesal dan tetap ridho dengan perilaku anaknya kepadanya, tetapi Allah SWT, apakah tetap meridhoi anak itu? Apakah alam semesta beserta malaikat yang mendengar dan melihat kelakuan anak itu pun membiarkan anak itu menjadi orang sukses padahal anak itu belum sukses membahagiakan ibunya sendiri?</p>
<p>Berterimakasih itu penting, dan berterimakasih kepada orang yang paling berkorban untuk kehidupan kita adalah sangat penting. Setelah Nabi Muhammad saw, menurut Anda siapa orang yang paling berjasa atas kehidupan Anda? Nah, mungkin sekali jawaban Anda adalah ibu Anda. Itu sebabnya ketika kita “gagal” membahagiakan ibu kita maka sebenarnya kita tidak layak mendapatkan kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat. Itu sebabnya dari beberapa kasus yang saya perhatikan dan sempat saya tangani, ternyata ketidakberkahan hidup seseorang sangat tergantung dari bagaimana ia menjalin hubungan baik yang penuh terimakasih kepada ibunya.</p>
<p>Sahabat Solusi, bagaimana dengan Anda? Bukankah setangkai bunga mawar yang engkau berikan kepada ibumu di kala ia masih hidup jauh lebih berharga dibandingkan seribu bunga mawar yang engkau taburkan di atas pusaranya?</p>
<p>Wallahu alam, silakan baca kelanjutannya di Menemukan AKAR MASALAH part-2 . Terimakasih</p>
<p>http://cahaya-semesta.com<br />
http://sugestipower.com<br />
Menemukan AKAR MASALAH (part-2)</p>
<p>14 Oktober 2009 jam 20:47</p>
<p>Artikel ini adalah kelanjutan dari Menemukan AKAR MASALAH part-1</p>
<p>Sahabat Solusi, selain perkara hablumminallah dan hablumminannas, saya pun memperhatikan bahwa akar masalah berikutnya adalah ketidakmampuan kita mengikhlaskan diri atas perilaku siapapun dan apapun atas diri kita, sehingga ada ganjalan di dalam hati kita, sehingga ganjalan itu kelak turut menghalangi berbagai keberkahan yang sebenarnya tengah dihadirkan oleh Allah SWT kepada kita semua. Dan ketidakikhlasan itu boleh jadi hadir bukan dari manunsia, tapi ia hadir dari binatang, batu, kerikil, sinetron, duri, meja, pulpen, dan lain sebagainya. Mengapa bisa demikian?</p>
<p>Misalkan, bisa jadi kita tidak ikhlas lantaran binatang peliharaan kita melakukan tindakan hal yang mengesalkan. Misalkan kucing di rumah Anda nge-BAB atau pipis sembarangan. Lalu Anda pun kesal, dan terbawa terus kekesalannya hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan, maka hal itu sejatinya bisa menghambat keberkahan hidup Anda. Atau contoh lain, ketika Anda sedang berjalan, tiba-tiba kaki Anda tersandung batu lalu Anda terjatuh dan berdarah, lalu secara spontan Anda kesal dengan batu itu dan kekesalan Anda tersebut belum sempat Anda ikhlaskan hingga saat ini.</p>
<p>Sahabat Solusi, itu sebabnya kita harus melakukan Thowaf Tujuh Dimensi untuk mengikhlaskan berbagai permasalahan kita. Ketujuh Dimensi itu adalah Atas, Bawah, Kanan, Kiri, Depan, Belakang, dan Dalam.</p>
<p>Dimensi Atas adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas apa pun yang telah Allah hadirkan untuk kita. Sebab tidak sedikit hari ini yang mengatakan bahwa Tuhan tidak adil kepada saya. Dan mereka bertanya, Kenapa harus saya yang memiliki masalah ini? Apa yang kurang dari saya sehingga Tuhan selalu memberikan ujian yang begitu berat kepada saya? Sahabat Solusi, mulai hari ini ikhlaskan Dimensi Atas Anda. Jangan pernah salahkan Allah, tapi selalulah introspeksi diri.</p>
<p>Dimensi Bawah adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas apapun yang BUMI lakukan kepada kita sebab kelak kita juga akan dikeBUMIkan. Apapun yang ada di alam semesta ini jangan sampai membuat kita kesal. Ingatlah kita akan keBAWAH alias akan mati. Dengan melakukan proses pengikhlasan di Dimensi BAWAH maka akan melahirkan sikap tidak takut mati dan tidak bernafsu yang berlebihan terhadap dunia. Dan Rosulullah saw pernah memprediksi kelak umat Islam akan banyak yang terkena penyakit WAHN, yaitu Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati. Ya, ikhlaskanlah kematian Anda, bisa diawali dengan cara belajar mengikhlaskan “kepergian” orang-orang yang Anda cintai.</p>
<p>Dimensi Kanan adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas apapun yang telah Anda berikan kepada alam semesta ini dan kepada manusia yang tinggal di alam semesta ini. Jangan lagi ingat-ingat setiap kebaikan Anda jika itu hanya untuk dipamerkan kepada khalayak ramai. Ketahuilah, bahwa menjadi pelupa itu memang tidak baik, tetapi pelupa yang hakiki adalah lupa terhadap siapa saja Anda sudah memberi. Bagaimana cara melupakannya padahal ia sudah terlanjur masuk ke dalam emori otak kita? Caranya sederhana yaitu tak perlulah kita menceritakan kebaikan-kebaikan kita kepada orang lain.</p>
<p>Dimensi Kiri adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas setiap godaan dan maksiat yang tersedia di hadapan Anda. Dan itu tidaklah mudah. Kemaksiatan yang hadir di hadapan mata membuat kondisi jiwa kita menjadi serba salah. Tergoda salah, marah pun salah, diam bisa salah, bergerak menghancurkannya bisa salah, termasuk bergerak menghindar pun bisa salah. Contoh : jangan sampai gara-gara Anda melihat wanita berpenampilan seksi lalu Anda pun marah-marah tak karuan. Satu kampung Anda marahi sebab ada satu orang yang berpakaian seksi. Anda kesal melihat orang lain tidak mau berbusana sopan dan tidak mau taat aturan Tuhan. Saya sarankan, anda tidak perlu kesal, karena kekesalan Anda justru malah bisa menghambat kesejatian Anda dalam berdakwah. Sampaikan saja yang terbaik, dengan cara yang baik, dengan tetap bertawakkal penuh kepada Allah terhadap hasil Dakwah Anda. Kecuali, kalau Anda yakin bahwa marah-marah itu akan membuat orang tersebut segera menutup auratnya, maka silakan saja. Tapi saya tidak menyarankan, sebab yang menggerakkan sang hati untuk berubah itu bukanlah manusia, apalagi manusia pemarah, melainkan yang menggerakkan sang hati itu adalah Allah SWT.</p>
<p>Dimensi Depan adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas setiap IMPIAN atau KEINGINAN Anda terhadap harta, tahta, wanita, dan kesenangan dunia lainnya. Contoh : Puber kedua. Sebagaimana yang saya alami, malah mungkin sudah puber ketujuh, ternyata menahan kehendak atas seorang wanita itu tidaklah mudah. Cinta itu seperti datang tiba-tiba, jujur dari hati ini bahwa saya tak pernah mengundangnya, lalu ia ujug-ujug hadir dalam relung hati saya, membentuk sebuah hasrat, impian, atau keinginan untuk memiliki. Ya, ikhlaskanlah. Kalau Anda bisa begitu demikian cintanya terhadap makhluk, maka berarti Anda memiliki potensi yang dahsyat untuk mencintai Allah yang telah menciptakan orang yang Anda cintai tersebut.</p>
<p>Dimensi Belakang adalah sebuah usaha introspeksi dan mengikhlaskan atas apapun yang telah terjadi di masa lalu Anda atau terhadap siapa pun yang dahulu pernah menyakiti hati Anda, dan Anda belum sempat mengikhlaskannya. Maafkanlah masa lalu Anda, betapa pun tidak mudah memaafkan itu. Ingatlah selalu bahwa Mengikhlaskan dan Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu Anda, tapi ia akan membuat hidup Anda hari ini sungguh harmoni dan penuh kebahagiaan, sehingga hari esok Anda yang tidak pasti pun, tetap Anda tempuh dengan langkah yang pasti.</p>
<p>Terakhir, ini yang paling penting, adalah Dimensi Dalam. Sebelumnya telah dijelaskan keenam Dimensi di atas yang mana termasuk Dimensi Luar. Sedangkan Dimensi Dalam adalah Dimensi yang sangat halus. Dimensi yang sangat sensitif. Dimensi yang sangat menentukan. Apa pun yang terjadi di luar sana, kalau yang di dalam “baik-baik” saja maka insya Allah semuanya akan berjalan baik dan membahagiakan. Melatih keikhlasan di Dimensi Dalam tidak lain dan tidak bukan adalah dengan cara Beribadah Mahdah yang khusyu dan berkualitas. Salah satunya, mari kita perhatikan kualitas Sholat kita hari ini, apakah betul bahwa Sholat kita sudah diDIRIkan atau baru sekedar diLAKSANAkan. Orang yang menDIRIkan Sholat artinya telah menjadikan Sholat bagian dari DIRInya. Sehingga wajar Allah berfirman, “Dirikanlah Sholat, karena Sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”.</p>
<p>Sahabat Solusi, Bagaimana dengan kita?</p>
<p>Wallahu Alam, silakan baca lanjutannya di IKHLAS yang JUJUR &#8211; Menemukan AKAR MASALAH part-3</p>
<p>http://cahaya-semesta.com<br />
http://sugestipower.com</p>
<p>IKHLAS yang JUJUR (Menemukan AKAR MASALAH part-3)<br />
Bagikan<br />
15 Oktober 2009 jam 10:42<br />
&#8220;Ikhlas tidak hadir dalam kondisi yang dipaksakan atau bahkan direkayasa, tapi ia hadir dalam kondisi kedekatan Anda kepada Allah. Jalinlah kedekatan itu.&#8221;</p>
<p>Artikel ini adalah kelanjutan dari Menemukan AKAR MASALAH part-1 dan Menemukan AKAR MASALAH part-2.</p>
<p>Banyak yang mengatakan bahwa Ikhlas itu mudah diucapkan tapi sulit dipraktekkan. Tentu saja saya tidak memungkiri hal itu. Ikhlas memang tidak mudah, itu sebabnya orang yang hidupnya ikhlas ia akan hidup mudah dan bahagia. Sebab dibalik ketidakmudahan pasti ada kemudahan.</p>
<p>Ikhlas ibarat Anti Virus yang harus dimiliki oleh setiap jiwa. Karena Virus selalu mengupgrade dirinya maka keikhlasan kita pun harus terus ditingkatkan. Ikhlas sangat erat hubungannya dengan pengaruh iblis. Semakin ikhlas jiwa seseorang maka berkemungkinan semakin berkualitas iblis yang diutus untuk menggoda. Karena iblis paham betul bahwa ia tak kan sanggup menggoda orang-orang yang ikhlas. Tapi pastinya iblis tidak akan tinggal diam, mereka tidak menyerah begitu saja, mereka terus meningkatkan kualitas godaannya hingga akhirnya orang itu bisa tergoda, hal ini mungkin disebabkan anti virus keikhlasan yang dimilikinya lupa belum ter-update.</p>
<p>Perhatikan firman Allah berikut : “Iblis berkata: &#8220;Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang IKHLAS di antara mereka&#8221;. (Q.S. 15:39-40).</p>
<p>Latihlah keikhlasan Anda secara bertahap dengan cara jujurlah terhadap diri sendiri, tak perlulah menyembunyikan apapun di hadapan Allah SWT, sebab Allah Maha Mengetahui sehingga Dia paham betul apa yang Anda niatkan ketika melakukan sesuatu.</p>
<p>Misalnya, ketika seorang Da’i atau Ustadz mengatakan kepada hatinya sendiri, “Ya, Allah saya ikhlas berdakwah karena-Mu, bukan karena ingin amplopnya, dan bukan karena ingin terkenal. Ya Allah saya sungguh ikhlas karena-Mu, saya hanya butuh Engkau ya Allah.” Dan Allah Maha Mengetahui, atas isi hati Ustadz tersebut. Ada baiknya jika Ustadz tersebut jujur saja kepada Allah, “Ya Allah saya sedang belajar meningkatkan kualitas keikhlasan saya, Mohon ampun jika di dalam hati saya masih terbesit keinginan akan penghargaan dari manusia, karena hal itu memang masih saya rasakan ya Allah, dan saya belum sanggup membendung perasaan itu ya Allah, maka berikanlah saya pelajaran terbaik dalam hidup ini, sebab pada akhirnya hanya kepada Engkaulah aku berserah penuh ya Allah.”</p>
<p>Atau misalkan, ketika seseorang mengatakan ke dalam hatinya, “Ya, Allah aku beribadah kepada-Mu bukan karena takut neraka-Mu, dan aku beribadah bukan karena ingin syurga-Mu, dan aku beribadah bukan karena keinginanku atas dunia ini. Aku beribadah murni hanya untuk-Mu ya Allah, yang aku inginkan hanyalah Engkau ya Allah.” Dan Allah Maha Mengetahui. Allah paham bahwa kita ini penakut, Allah paham bahwa kita ini tidak akan sanggup disiksa di neraka, dan Allah juga paham bahwa kita ini sangat menyukai syurga, bidadari, dan semua isinya. Dan itu semua sudah menyatu di hati kita ini, dan Allah-lah yang Mengusai isi hati.</p>
<p>Itu sebabnya, lebih baik jujur dan terus teranglah kepada Allah, “Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Engkaulah yang menciptakan Syurga dan Neraka sehingga saya hidup dengan banyak pelajaran dariMu. Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksa neraku yang menakutkan dan masukkanlah aku ke dalam syurga yang menyenangkan. Berikan aku syurga terbaik, dengan pulhan bidadari tercantik dan tersuci yang ada di dalamnya. Ya Allah, sesungguhnya kepada Engkaulah aku kelak ingin kembali secara sempurna.”</p>
<p>Ya Mulailah hidup jujur dengan diri sendiri, katakan apa yang Anda rasakan apa adanya kepada Allah, tanpa ditutup-tutupi lagi, sebab tak bakal mampu Anda menutupinya. Jangan pernah bertindak apapun jika Anda belum berkomunikasi dengan Allah SWT, agar keikhlasan Anda terjaga. Misalkan, ketika Anda malas menyelesaikan tugas kantor, lalu Anda memaksakan tetap mengerjakannya, maka boleh jadi pekerjaan Anda akan dipenuhi dengan keluhan dan kesalahan. Itu justru berbahaya. Tapi cobalah katakan kepada hati terdalam Anda, “Ya Allah saya sesungguhnnya malas menyelesaikan tugas dari kantor ini, maafkanlah hambaMu yang pemalas ini, dan berikanlah aku kekuatan sehingga aku bisa ikhlas mengerjakan semua pekerjaan ini. (Jeda sebenatar, tarik nafas yang dalam dan hembuskan perlahan). Ya Allah aku sekarang sungguh ikhlas dengan kemalasanku dan dengan menumpuknya pekerjaanku, Engkaulah yang membolak-balikkan hatiku, berikanlah semangat itu untukku, sehingga pekerjaan ini terasa mudah bagiku. Terimakasih ya Allah, sebab Engkau selalu menemanku. Amien.”</p>
<p>wallahu alam</p>
<p>http://cahaya-semesta.com<br />
http://sugestipower.com</p>
Posted in Renungan Tagged: artikel, motifasi diri, motivasi diri, pengajian, prilaku, psikologi, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/747/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/747/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/747/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=747&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/menemukan-akar-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANGGUNG JAWAB DAN KEDISIPLINAN ANAK</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/tanggung-jawab-dan-kedisiplinan-anak/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/tanggung-jawab-dan-kedisiplinan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 04:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[TANGGUNG JAWAB DAN KEDISIPLINAN ANAK
Disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu DISCIPLINA dan DISCIPULUS yang artinya &#8220;perintah&#8221; dan &#8221; murid&#8221;.  Mendisiplinkan berarti mendidik.  Anak-anak menginginkan dan membutuhkan kemampuan ini.  Kedisiplinan memberikan kejelasan dan rasa aman.
Siapa yang bertanggungjawab untuk membekali mereka dengan kemampuan ini ???
Anak-anak membutuhkan contoh, suri tauladan dan seorang pemandu.  Keterampilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=744&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>TANGGUNG JAWAB DAN KEDISIPLINAN ANAK</p>
<p>Disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu DISCIPLINA dan DISCIPULUS yang artinya &#8220;perintah&#8221; dan &#8221; murid&#8221;.  Mendisiplinkan berarti mendidik.  Anak-anak menginginkan dan membutuhkan kemampuan ini.  Kedisiplinan memberikan kejelasan dan rasa aman.</p>
<p>Siapa yang bertanggungjawab untuk membekali mereka dengan kemampuan ini ???</p>
<p>Anak-anak membutuhkan contoh, suri tauladan dan seorang pemandu.  Keterampilan bukan hak paten  atau diperoleh sejak lahir.  Artinya, orang tua yang ingin mengasah keterampilannya pasti bisa melakukan.<span id="more-744"></span></p>
<p>Pengembangan karakter yang baik pada anak membawa keuntungan yang lebih besar dalam perilaku dan kepribadian mereka, diantaranya:<br />
1. Mampu bergaul dengan baik<br />
2. terhindar dari perilaku yang tidak baik<br />
3. keyakinan diri yang tinggi<br />
4. mampu memikul tanggung jawab<br />
5. selalu berpikir positif<br />
6. tiket menuju keberhasilan, memiliki kesempatan untuk menjadi orang dewasa yang sukses</p>
<p>Apa yang dibutuhkan orang tua dan guru untuk mendisiplinkan anak ?<br />
1. menentukan sasaran dan tujuan.<br />
2. kesadaran terhadap diri sendiri.  Sebelum mencoba untuk mendisiplinkan anak, maka orang dewasa harus sadar diri dan menjadi contoh yang baik</p>
<p>Alat-alat yang dibutuhkan orang tua dan guru untuk mendisiplinkan anak adalah:<br />
1. Kesabaran.  Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis<br />
2. Tidak ada hukuman fisik.  Hukuman fisik sebaiknya tidak dijadikan sarana untuk mendisiplinkan anak, walaupun mungkin sudah diterapkan oleh generasi sebelum kita.<br />
3. Pola pengasuhan orang tua<br />
4. Waktu.  Menurut C. Burton bahwa &#8220;Anda tidak akan pernah menemukan waktu untuk apapun, anda harus menciptakannya&#8221;.<br />
5. Komitmen.  Tanpa komitmen hanya akan ada janji dan harapan, tapi tak ada perencanaan.<br />
6. Anak belajar dengan bermain, sehingga orng dewasa dapat mengajarkan pada saat ada kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan mereka.<br />
7. Komunikasi.  Jika kita memaksimalkan komunikasi, kita dapat meminimalkan kekerasan.<br />
8. Konsisten.  Jika kita berharap agar anak konsisten melakukan apa yang kita harapkan, kita pun harus konsisten terhadap mereka.<br />
9. Dorongan/motivasi<br />
10. Rasa hormat.  Tidak ada dua anak yang sama, orang tua harus menerima bahwa kecerdasan dapat terkemas dalam banyak cara.<br />
11. Latihan.  Kesabaran dan ketekunan memiliki pengaruh gaib sebelum kesulitan lenyap dan hambatan menghilang.<br />
12. Kebutuhan untuk berubah<br />
13. Mengetahui kepribadian anak</p>
<p>Mendisiplinkan anak dapat dimulai sekarang, saat ini juga, Menurut Aristoteles bahwa &#8221; Memulai sesuatu dengan cara yang baik, berarti sudah melakukannya separuh jalan&#8221;.</p>
<p>Jika kita dapat memegang teguh komitmen agar anak dapat disiplin dan bertanggung jawab maka anak dapat mendisiplinkan diri mereka sendiri dan mencintai tanggung jawab serta memiliki motivasi yang tinggi.</p>
<p>Written by Salamah<br />
Tuesday, 10 November 2009 22:28</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, family, guru, keluarga, orang tua dan anak, pengajian, psikologi, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/744/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=744&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/tanggung-jawab-dan-kedisiplinan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CLASSROOM MANAGEMENT</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/classroom-management/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/classroom-management/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 04:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[CLASSROOM MANAGEMENT
We know that the single most important factor governing student learning is.  In a study reviewing 11,000 pieces of reseach that spanned 50 years, three researchers determined that there are 28 factors that influence student learning and these have been rank ordered.  The most important factor governing student learning is CLASSROOM MANAGEMENT.
How [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=742&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>CLASSROOM MANAGEMENT</p>
<p>We know that the single most important factor governing student learning is.  In a study reviewing 11,000 pieces of reseach that spanned 50 years, three researchers determined that there are 28 factors that influence student learning and these have been rank ordered.  The most important factor governing student learning is CLASSROOM MANAGEMENT.</p>
<p>How you manage the classroom is the primary determinant of how well your students will learn.  Based on research findings:<br />
The three characteristics of effective teachers :  they have classroom management skills, teach for lesson mastery and practice positive expectations.<span id="more-742"></span><br />
Classroom management skills are of primary importance in determining teaching success.<br />
The number one factor governing student learning is classroom management.<br />
The first day of school is the most important day of the school year.  Effective classroom management practices must begin on the first day of school.</p>
<p>How to have a well-managed classroom ?</p>
<p>The first thing you need to know,  Effective teachers MANAGE their classrooms and ineffective teachers DISCIPLINE their classrooms.  The fact that you know how to cook a steak does not make you a successful restaurateur.  For that, you need to know about accounting procedures, state, and local regulations, sanitation, union agreements and worker &amp; customer relationship.  How to cook a steak is the last thing you need to know.  The first thing you need to know is how to manage the restaurant.</p>
<p>The fact that you have a college degree in English does not make you a teacher, much less an English teacher.  You need to know about academic learning time, formative and sumative testing, criterion-referenced testing, discipline plans, procedures and routines, learning style, motivation theory, record-keeping procedures, identification of learning disabilities, higher-order thingking skills, due process, privacy right, grouping, community services, learning of mastery, remediation and correction, prescriptive learning, credibility and a whole host of other things.</p>
<p>Teacher almost never think about managing a classroom.  They only think about presenting lessons-lectures, worksheet, activities-never management.  Most classroom a nonmanaged.  And any situation  that is nonmanaged can easily turn chaotic.</p>
<p>What is classroom management?</p>
<p>Classroom management refers to all of things that a teacher does to organize students, space, time and materials so that instruction in content and student learning can take place.</p>
<p>The research indicates that the amount of time that students spend actively engaged in learning activities is directly linked to their academic achievement.  It also shows that teachers who are good classroom managers are able to maximaze student engaged time or academic learning time.</p>
<p>Classroom management includes all of the things a teacher must do toward two ends:<br />
To foster student involvement and cooperation in all classroom activities.<br />
To establish a productive working environment.</p>
<p>To foster student involvement and cooperation in all classroom activities, the effective teacher plans a variety of activities that are appropriate for learning.  These activities may include reading, taking notes, participating in group work, taking part in class discussion, participating in games, and producing materials.  An effective teacher has every student involved and cooperating in all of these activities,</p>
<p>For all students to work on their activities, the environment must be condusive to learning.  Students must pay attention, be cooperative and respectful of each other, exhibit  self-discipline and remain on task.  In addition, the room  must have a positive climate, all amterials must be ready and organized, and the furniture must be arranged for productive work.</p>
<p>Characteristics of well-managed classroom:<br />
Students are deeply involved with their work, especially with academic, teacher-led instruction.<br />
Students know what is expected of them and are generally successful.<br />
There is relatively little wasted time, confusion aor disruption.<br />
The climate of the classroom is work-oriented, but relaxed and pleasant</p>
<p>Well, if you ran a school or a classroom, which is what you do, how would you run the place ? That is called CLASSROOM MANAGEMENT, and the characteristics of a well-managed classroom are well known.</p>
<p>References</p>
<p>Wong, H.K &amp; Wong, R.T.  1998.  How to be effective teacher the first days of school.  KHW Publ.</p>
<p>Bos, C.S &amp; Vaughn.S. 1991.  Strategies for teaching students with learning and behavior problems.  2nd ed. Ally and Bacon Inc.<br />
Written by Salamah<br />
Thursday, 12 November 2009 20:19</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, guru, pendidikan, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/742/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=742&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/17/classroom-management/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jembatan</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/16/jembatan/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/16/jembatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 07:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[Jembatan
Dua orang bersaudara tinggal di suatu ladang. Dulu mereka hidup nyaman, saling bantu, dan saling
tolong. Namun, karena suatu masalah, kini mereka berselisih. Kasih sayang yang berlangsung selama
hidup berdampingan sepuluh tahun sirna dalam sekejap. Awalnya hanya kesalahpahaman kecil. Lalu
menjadi saling ejek dan saling maki, setelah tak bertegur sapa selama seminggu.
Pada suatu pagi si kakak kedatangan tamu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=739&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jembatan<br />
Dua orang bersaudara tinggal di suatu ladang. Dulu mereka hidup nyaman, saling bantu, dan saling<br />
tolong. Namun, karena suatu masalah, kini mereka berselisih. Kasih sayang yang berlangsung selama<br />
hidup berdampingan sepuluh tahun sirna dalam sekejap. Awalnya hanya kesalahpahaman kecil. Lalu<br />
menjadi saling ejek dan saling maki, setelah tak bertegur sapa selama seminggu.<span id="more-739"></span><br />
Pada suatu pagi si kakak kedatangan tamu. Rupanya seorang tukang kayu yang datang lengkap<br />
dengan kotak perkakasnya. “Saya mencari kerja. Apakah anda punya pekerjaan buat saya?” tanya si<br />
tukang kayu itu. “O ya,” kata si Kakak. “Saya punya satu pekerjaan untukmu. Coba lihat di sana, di<br />
ladang sebelah sana. Di sana tinggal tetangga saya. Ehmm, sebenarnya adik saya. Dua minggu lalu dia<br />
membuat masalah dengan saya. Sebelumnya di sana ada sebuah tanah lapang, tapi dia telah menguruk<br />
tanah itu dan kini ada sebuah lembah kecil di sana. Mungkin ia ingin membatasi tanahnya dengan<br />
lembah itu.”<br />
“Tapi,” dia berkata lagi, “Saya bisa lakukan yang lebih baik daripada dia. Kamu lihat kumpulan kayu<br />
yang di lumbung itu? Saya ingin kamu membuat pagar. Dan ingat, tingginya harus 10 meter sehingga<br />
dia tak akan bisa lagi melihat ladang saya lagi. Saya ingin memberinya pelajaran.”<br />
“Baiklah, saya bisa mengerti masalahnya,” jawab si tukang kayu. “Sekarang, tunjukkan dimana palu dan<br />
paku supaya saya bisa mulai bekerja. Saya akan membuat Anda senang dengan pekerjaan saya ini.”<br />
Sang kakak menunjukkan tempat perkakas miliknya, lalu pergi ke kota untuk membeli beberapa barang<br />
sehari-hari. Ia juga berpesan kepada si tukang kayu untuk menyelesaikan tugasnya itu dalam seminggu.<br />
Jadi, selesai tepat saat ia kembali dari kota.<br />
Tibalah saat itu. Matahari hampir tenggelam ketika sang kakak tiba dari kota. Ia langsung menuju<br />
“perbatasan” ladang itu. Matanya terbelalak. Betapa kagetnya ia, sebab di sana tidak dilihatnya pagar.<br />
Yang ada justru sebuah jembatan yang menghubungkan ladangnya dengan ladang adiknya. Di ujung<br />
jalan yang lainnnya, sang adik ternyata telah berdiri sambil melambai-lambaikan tangan. Dalam<br />
temaram senja kedua kakak-beradik itu bertemu di tengah jembatan.<br />
Sang adik berkata, “Kak, engkau begitu baik telah membuatkan satu jembatan buat kita berdua. Padahal<br />
aku yang memulai segalanya. Aku yang membuat lembah ini sebagai batas di antara kita. Engkau<br />
begitu baik, walaupun atas segala yang pernah kuucapkan dan telah kuperbuat.”<br />
Sang kakak tak menyangka seperti ini kejadiannya. Sebenarnya ia ingin juga membuat batas di antara<br />
mereka. Kedua tangan kakak-beradik itu lalu terbuka untuk saling berpelukan. Di tempat yang agak jauh<br />
si tukang kayu menyaksikan adegan itu. Kemudian memanggung pekakasnya. Bersiap pergi. Tapi, ekor<br />
mata si kakak segera menangkapnya. “Heii…tunggu! Jangan pergi! Aku punya pekerjaan lain untukmu,”<br />
teriak si kakak memanggil si tukang kayu.<br />
“Saya ingin sekali berada di sini dan merasakan kebahagiaan kalian,” kata si tukang kayu. “Tapi, masih<br />
banyak jembatan lagi yang harus kubangun. Terima kasih.”<br />
Teman, jembatan antarmanusia adalah cinta dan kasih sayang. Dalam cinta kita akan menemukan<br />
saling pengertian, pengharapan, welas asih, perhatian, peneguhan, dukungan, semangat, dan banyak<br />
hal lainnya. Jika tak bisa menemukan cara untuk memberikan kasih kepada banyak orang, setidaknya<br />
kita punya cara untuk mengingat bahwa kita telah lakukan yang terbaik.<br />
Sesungguhnya yang kita butuhkan hanyalah sedikit sentuhan bahwa sebenarnya kita adalah satu dan<br />
punya keinginan yang sama: DICINTAI dan MENCINTAI.<br />
Disadur dari buku :<br />
Kekuatan Cinta “30 Nasihat Bagi Jiwa Perindu Nur Illahi”<br />
Irfan Toni Herlambang</p>
Posted in Renungan Tagged: motivasi diri, prilaku, psikologi, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/739/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=739&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/16/jembatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SENYUM yang &#8220;Menggoda&#8221;</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/730/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/730/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 06:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=730</guid>
		<description><![CDATA[SENYUM yang &#8220;Menggoda&#8221;

Sobat Senyum, Baginda Rosulullah saw. bersabda, “Jangan meremehkan sedikit pun tentang makruf (berbuat kebajikan) meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum).” (HR. Muslim). Kemudian Beliau pun bersabda, &#8220;Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya adalah sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=730&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SENYUM yang &#8220;Menggoda&#8221;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-735" title="smile2" src="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/11/smile2.jpg?w=400&#038;h=336" alt="smile2" width="400" height="336" /></p>
<p>Sobat Senyum, Baginda Rosulullah saw. bersabda, “Jangan meremehkan sedikit pun tentang makruf (berbuat kebajikan) meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum).” (HR. Muslim). Kemudian Beliau pun bersabda, &#8220;Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya adalah sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat adalah sedekah.&#8221; (HR. At Tirmizi dan Abu Dzar)</p>
<p>Senyum adalah salah satu teknik mengosongkan diri dari berbagai prasangka kepada orang lain. Ketika Anda &#8220;kosong&#8221; artinya Anda siap untuk &#8220;diisi&#8221;. Semakin ikhlas senyuman yang kita berikan, maka semakin &#8220;kosonglah&#8221; kita, alias semakin terbukalah kita terhadap kehadiran rejeki dari mana pun juga.</p>
<p>Ya, ketika kita tersenyum artinya kita siap menerima kehadiran orang lain ataupun kehadiran rejeki yang Allah berikan kepada kita. Namun ketika kita Cemberut (Cemberut adalah Senyum yang mengarah ke depan, bukan ke samping sebagaimana lazimnya &#8211; pen.), maka sebenarnya kita tengah menutup rejeki yang akan hadir di hadapan kita. Cemberut itu artinya &#8220;penuh&#8221;, alias tidak siap &#8220;diisi&#8221; oleh berbagai rejeki dan kebaikan.<span id="more-730"></span></p>
<p>Sobat Senyum, Tahukah Anda, ketika Anda tersenyum maka ada sekitar 26 otot wajah Anda yang dikendurkan, sehingga wajar Anda akan terlihat awet muda tatkala rajin tersenyum. Tapi kalau Anda termasuk yang rajin cemberut maka ketahuilah bahwa ada sekitar 62 otot wajah Anda yang sedang dikencangkan, sehingga tak heran jika orang yang rajin cemberut ia akan awet tua, eh maaf maksudnya cepat tua.</p>
<p>Selanjutnya, Informasi yang penulis dapat dari film BBC, bahwa agar senyuman Anda lebih ikhlas dan konprehensif maka kedua sudut luar mata Anda harus terlihat turun dan mata Anda pun terlihat menyipit. Saya memperhatikan bahwa ternyata Gerakan “Buka-Tutup” pada mata berbanding terbalik dengan kondisi “Buka-Tutup” pada Hati Anda. Mata yang agak menyipit dan menutup berarti hati yang mulai melebar dan terbuka. Itu sebabnya, orang yang tersenyum tapi kedua matanya masih terbuka lebar, maka sungguh ketulusan senyumannya harus terus ditingkatkan, sebab kemungkinan besar hatinya masih tertutup.</p>
<p>Ternyata konprehensifitas sebuah senyuman juga dilihat dari terlihat atau tidak terlihatnya barisan gigi seri di bagian depan mulut Anda. Kalau mulut Anda terbuka maka sebenarnya hati Anda siap menerima sesuatu. Tetapi ketika Anda tersenyum, tapi mulut Anda masih tertutup, alias jaim, tanpa berkehendak memperlihatkan gigi seri Anda, maka hati Anda sebenarnya masih ragu atau menutup diri dari kondisi di sekitar Anda. Maka tak heran, dalam bahasa sunda, tertawa disebut dengan istilah seuri.</p>
<p>Namun tersenyum tidak boleh berlebihan. Karena senyum itu sedekah, maka sebagaimana sedekah, senyum pun tidak boleh berlebihan. Sedekah yang dianjurkan oleh Rosulullah saw. adalah maksimal sepertiga dari seluruh harta Anda, artinya ketika Anda tersenyum pun, maka bukalah cukup sepertiga dari luas mulut Anda. Artinya cukup perlihatkan jajaran gigi seri Anda, tak perlu sampai memperlihatkan gigi-gigi graham Anda.</p>
<p>Sobat Senyum, Agar lebih memudahkan Anda, ada baiknya Anda menggunakan Senyum teknik 1225 ketika sedang tersenyum, Teknik 1225 artinya, 1 dari hati yang ikhlas, 2 cm ke kiri, 2 cm ke kanan, serta lakukan minimal selama 5 detik. Insya Allah senyuman Anda akan lebih terlihat seimbang, sempurna dan “menggoda” hadirnya rejeki dan kasih sayang manusia. Mohon diingat, bahwa keseimbangan senyuman Anda melambangkan akan seimbang-tidaknya Hati Anda. Awas, jangan diubah tekniknya menjadi 1230, yang berarti 1 dari hati yang kusut, 2 cm ke depan, dan dilakukan selama 30 detik. Wah bisa runyam dunia. Wallahualam</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-737" title="smile3" src="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/11/smile3.jpg?w=448&#038;h=336" alt="smile3" width="448" height="336" /></p>
<p>Salam HUMOrTIVASI (-;</p>
<p>http://sugesti-power.com<br />
http://cahaya-semesta.com</p>
Posted in motivasi diri Tagged: artikel, family, guru, keluarga, motivasi diri, orang tua dan anak, psikologi, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/730/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=730&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/730/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/11/smile2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">smile2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/11/smile3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">smile3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>4 karakter manusia</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/4-karakter-manusia/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/4-karakter-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 03:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[Antara ilmu dan amal tidak selalu jalan beriringan. Tidak setiap orang yang berilmu tergugah untuk mengamalkannya, begitupun orang yang beramal, belum tentu konsekuen dengan ilmu yang telah dihafalnya. Al Khalid bin Ahmad ra berkata
Orang itu ada empat karakter yaitu :
1.	Orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu, dialah orang alim, bertanyalah (belajarlah) kepadanya.
2.	Orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=727&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Antara ilmu dan amal tidak selalu jalan beriringan. Tidak setiap orang yang berilmu tergugah untuk mengamalkannya, begitupun orang yang beramal, belum tentu konsekuen dengan ilmu yang telah dihafalnya. Al Khalid bin Ahmad ra berkata<br />
Orang itu ada empat karakter yaitu :<br />
1.	Orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu, dialah orang alim, bertanyalah (belajarlah) kepadanya.<br />
2.	Orang yang tahu tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya tahu, inilah orang yang lupa maka ingatkanlah ia.<br />
3.	Orang yang tidak tahu dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu, inilah orang yang minta bimbingan, maka bimbinglah ia.<br />
4.	Orang yang tidak tahu, tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, inilah orang bodoh, hangan bergaul dengannya.<br />
(Adab ad-Dunya wa ad-Diin 86, Imam Mawardi)<br />
Orang alim yaitu orang yang tahu dan dirinya tahu bahwa ia tahu. Dia memiliki ilmu syar’I, memahami tentang apa yang dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Ia tahu hak-hak ilmu, kemudian menunaikan haknya. Yakni hak ilmu untuk diamalkan. Seorang belum bisa dikatakan sebagai orang alim, kecuali setelah mengamalkan ilmunya. Seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ra., “innamal alim man amila bimaa alima. Orang alim hanyalah orang yang mengamalkan apa yang diilmuinya.”<br />
Orang lalai yaitu orang yang tahu, tapi tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dia sudah mengetahui ilmunya, tapi perbuatannya bertentangan dengan apa yang diketahuinya. Jika kita mau mengoreksi diri, ada kalanya kita mengambil bagian bagian tipe ini. Kita sudah tahu suatu perintah namum belum juga melaksanakan. Sudah mengetahui suatu yang haram atau halal, tapi suatu kali terjerumus kedalamnya.<br />
Jika kelalian itu terpelihara dan sengaja menghindar dan mengelak dari nasehat, maka tidak ada yang lebih bahaya dari orang yang dianggap mengetahui ilmu tapi menyengaja berbuat dosa. Umar bin Khatab ra berkata, “Sesungguhnya diantara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya orang munafik tapi alim.” Orang-orang bertanya kepada beliau, “bagaimana ada orang munafik tapi alim?” beliau menjawab, “ Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hari dan amalnya.”</p>
Posted in Tausyiah Tagged: agama, aqidah, artikel, islam, muslim, pengajian, religion, sekolah, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/727/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=727&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/11/4-karakter-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tukang bakso</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/tukang-bakso/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/tukang-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=723</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu
menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,&#8230;terdengar suara tek&#8230;tekk.. .tek&#8230; suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat&#8230;, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=723&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu<br />
menyertai di setiap sore di musim hujan ini.</p>
<p>Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,&#8230;terdengar suara tek&#8230;tekk.. .tek&#8230; suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat&#8230;, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan<br />
anak &#8211; anak, siapa yang mau bakso ?<br />
<span id="more-723"></span>&#8220;Mauuuuuuuuu. &#8230;&#8221;, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.</p>
<p>Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. .. Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.</p>
<p>&#8220;Mang kalo boleh tahu, kenapa uang &#8211; uang itu Emang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita &#8211; cita penyempurnaan iman &#8220;.<br />
&#8220;Maksudnya.. ..?&#8221;, saya melanjutkan bertanya.<br />
&#8221; Iya Pak , kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :</p>
<p>1.      Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.</p>
<p>2.    Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.</p>
<p>3.    Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>Hatiku sangat&#8230;&#8230; &#8230;..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki<br />
fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung dibalik tidak mampu atau belum ada rejeki.</p>
<p>Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : &#8220;Iya memang bagus&#8230;,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Ia menjawab, &#8221; Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi &#8220;mampu&#8221; adalah sebuah definisi<br />
dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan<br />
diri sendiri, &#8220;mampu&#8221;, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan<br />
pada kita&#8221;.</p>
<p>&#8220;Masya Allah&#8230;, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso&#8221;.</p>
Posted in cerita Tagged: agama, aqidah, guru, islam, keluarga, motivasi diri, orang tua dan anak, pendidikan, prilaku, Renungan, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/723/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/723/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/723/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=723&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/tukang-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangisan Isam bin Yusuf</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/719/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/719/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 00:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[makrifat]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan bahawa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya
kurang khusyuk.
Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=719&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dikisahkan bahawa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyangnya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya<br />
kurang khusyuk.<br />
<span id="more-719"></span>Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: &#8220;Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?&#8221;</p>
<p>Berkata Hatim: &#8220;Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin.&#8221; Bertanya Isam: &#8220;Bagaimana wuduk batin itu?&#8221;</p>
<p>Berkata Hatim: &#8220;Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara :<br />
1. Bertaubat.<br />
2. Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.<br />
3. Tidak tergila-gila dengan dunia.<br />
4. Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia.<br />
5. Meninggalkan sifat bermegah-megahan.<br />
6. Meninggalkan sifat khianat dan menipu.<br />
7. Meninggalkan sifat dengki.&#8221;<br />
Seterusnya Hatim berkata: &#8220;Kemudian aku pergi ke Masjid, kukemaskan semua anggota badanku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku.<br />
Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim&#8217; dan aku menganggap bahwa sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.</p>
<p>Apabila Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.</p>
<p>Tangisan Isam bin Yusuf<br />
dikutip dari PUSTAKA HIKMAH ISLAM</p>
Posted in cerita, Tausyiah, Tokoh Tagged: agama, aqidah, cerita, islam, makrifat, motivasi diri, pengajian, religion, sekolah, Tausyiah, Tokoh <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/719/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=719&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/11/06/719/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa kita ria?</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/712/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/712/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 01:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/712/</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa kita ria?
Hawa nafsu pasti berusaha memuaskan syahwat dan merengkuh kenikmatan. Kenikmatan tertinggi bagi syahwat adalah kemenangan, penghormatan, keterhindaran dari hal yang menyakiti dan perolehan segala sesuatu yang menyenangkannya.
Hawa nafsu menyadari semua manusia – entah orang baik, pemaksiat, ataupun presiden atau raja selaku sosok paling agung dimata manusia – pasti menghormati, memuji dan mendekati orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=712&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kenapa kita ria?</strong></p>
<p>Hawa nafsu pasti berusaha memuaskan syahwat dan merengkuh kenikmatan. Kenikmatan tertinggi bagi syahwat adalah kemenangan, penghormatan, keterhindaran dari hal yang menyakiti dan perolehan segala sesuatu yang menyenangkannya.</p>
<p>Hawa nafsu menyadari semua manusia – entah orang baik, pemaksiat, ataupun presiden atau raja selaku sosok paling agung dimata manusia – pasti menghormati, memuji dan mendekati orang saleh dengan berbagai cara. Mereka bahkan rela mengorbankan harta dan jiwa demi mengabdi kepadanya. Menyadari hal ini, hawa nafsu menggerakkan seseorang supaya pura-pura menaati Allah Swt, agar dicintai, dihormati dan didekati orang-orang dengan berbagai cara. Dengan kata lain, supaya perkataannya didengar, perintahnya dipatuhi, kesalahannya dimaafkan, tidak dimusuhi, dan tidak disakiti.<span id="more-712"></span></p>
<p>Celakalah orang yang senang saat ibadahnya terlihat orang lain? Menurut Ibn al Jawzi (dalam Syam al Diin ibn muflih al Hanbali, al Adab al Syar’iyyah wa al Manh al Mar’iyyah, I h. 148), orang itu tidak tercela asalkan ia berusaha merahasiakan dan mengikhlaskan ibadah demi AllahSwt semata. Jadi ketika ibadahnya dilihat orang lain, Allahlah yang memperlihatkan kebaikannya kepada manusia. Ia lantas berbahagia atas perhatian dan kasih saying  Tuhan dalam menutupi maksiatnya dan menampakkan ibadahnya. Dengan begitu, kebahagiaannya bukan karena pujian manusia atau penghormatan mereka. Sebagaimana Allah Swt memperlihatkan kebaikannya dan menutupi aibnya didunia, ia yakin bahwa Allah akan berbuat sama kepadanya di akhirat.</p>
<p>Jadi ada tiga factor penyebab ria :\</p>
<ol>
<li>Ingin dihormati dan dikagumi. Inilah penyebab utama yang melahirkan dua penyebab berikutnya.</li>
<li>Ingin meraup keuntungan dan harta dari tangan orang lain.</li>
<li>Menghindari bahaya.</li>
</ol>
<p><strong>Kiat memberangus ria</strong></p>
<p>Ria bisa dipadamkan dengan :</p>
<ol>
<li>Mengingatkan diri bahwa Allah Swt. takkan memberikan hidayah atau membersihkan kalbu kepada orang yang ria.</li>
<li>Mengkhawatirkan murka Tuhan kala Dia melihat hati dicemari ria.</li>
<li>Menyesali berkurang atau hilangnya pahala karena tidak ikhlas.</li>
<li>Menyesali berkurangnya ganjaran di akhirat.</li>
<li>Membayangkan murka dan siksa Allah di akhirat.</li>
<li>Menyadari bahwa Allah Swt dapat saja menyegerakan siksa-Nya di dunia, sehingga pe-ria dibenci dan dijauhi masyarakat.</li>
<li>Merendahkan keistimewaan dunia yang disengani manusia dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dibenci Allah Swt.</li>
<li>Memandang rendah keistimewaan duniawi sesuai dengan ajaran Allah Swt.</li>
<li>Meyakini bahwa mendekatkan diri kepada manusia menjauhkan diri dari Allah Swt adalah orang yang dihempaskan ke tempat yang jauh sehingga tersesat  dan benar-benar merugi.</li>
<li>Meyakini bahwa harapan dipuji makhluk adalah tercela disisi Allah Swt.</li>
<li>Mengisafi bahwa hukumam terberat adalah ketika Allah Swt memperlihatkan ambisi peria untuk meraih keridaan manusia dan berpaling dari-Nya di akhirat. Pada hari ketika kebaikan sekecil apapun  sangat dibutuhkan , peria akan gemetar mendapati amal ibadahnya sia-sia.</li>
<li>Menyadari bahwa keridaan manusia bisa dan tidak tetap. Perbuatan yang dianggp baik dan diridai seseorang bisa dianggap buruk dan dibenci orang lain.</li>
<li>Menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh dengan ria adalah semu dan justru mendatangkan kerugian, sebab kedudukan terhormat dalam hati masyarakat diraih dengan cara tidak benar. Boleh jadi Allah Swt membongkar kedoknya, sehingga peria dibenci, dijauhi, disakiti dan tidak dilindungi. Inilah kerugian yang nyata ; rugi di dunia dan di akhirat.</li>
</ol>
Posted in Tausyiah Tagged: agama, aqidah, islam, muslim, pengajian, religion, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=712&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/712/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas atau Ria?</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/ikhlas-atau-ria/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/ikhlas-atau-ria/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 01:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausyiah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=710</guid>
		<description><![CDATA[Ikhlas atau Ria?
Ikhlas adalah beribadah karena Allah Swt semata bukan selain-Nya. Ikhlas terdiri dari 6 macam (imam ‘Izz al-din ibn ‘Abd al-Salam, Syajarah al Ma’arif wa al-Ahwal, bab Ikhlas, h. 59):

Ingin selamat dari azab.
Ingin mendapat pahala,
Ingin keduanya,
Beribadah karena malu kepada Allah Swt dengan mengharap pahala dan tidak takut akan siksa,
Beribadah karena cinta kepada Allah Swt [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=710&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Ikhlas atau Ria?</strong></p>
<p>Ikhlas adalah beribadah karena Allah Swt semata bukan selain-Nya. Ikhlas terdiri dari 6 macam (imam ‘Izz al-din ibn ‘Abd al-Salam, Syajarah al Ma’arif wa al-Ahwal, bab Ikhlas, h. 59):<span id="more-710"></span></p>
<ol>
<li>Ingin selamat dari azab.</li>
<li>Ingin mendapat pahala,</li>
<li>Ingin keduanya,</li>
<li>Beribadah karena malu kepada Allah Swt dengan mengharap pahala dan tidak takut akan siksa,</li>
<li>Beribadah karena cinta kepada Allah Swt tanpa peduli dengan pahala dan siksa</li>
<li>Beribadah karena menghormati dan memuliakan Allah Swt</li>
</ol>
<p>Adapun ria adalah melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah swt. Agar dilihat orang lain. Ria ada dua jenis :</p>
<ol>
<li>Beribadah supaya dilihat manusia (perbuatan ini pasti sia-sia, pelakinya bukan hanya dimurkai Allah Swt, tetapi juga pasti di azab (lihat al-Hafizh Ibn Rajab, Jami’ al Ulum wa al Hikam, I h. 79))</li>
<li>Beribadah supaya dilihat manusia dan allah Swt. Ria ini sangat halus karena mengandung dua tujuan sekaligus : manusia dan Tuhan. (berdasarkan Al Qur’an dan sunah, ibadah seperti ini juga sia-sia lihat al-Hafizh Ibn Rajab, Jami’ al Ulum wa al Hikam, I h. 79))</li>
</ol>
<p>Jenis pertama bukan karena Allah, tetapi karena manusia. Allah menegaskan bahwa kedua jenis ria membuat ibadah sia-sia : “Aku adalah sekutu yang palling membenci syirik. Barang siapa menyekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam beramal, Kutinggalkan amalnya untuk disekutukannya dengan-Ku itu.” HR  Ahmad dalam al Musnad (II, 301 dan 435), Muslim (2985) dan Ibn Majah (4202).</p>
Posted in Tausyiah Tagged: agama, aqidah, islam, muslim, pengajian, Tausyiah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=710&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/30/ikhlas-atau-ria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Model Sekolah Masa Depan</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/model-sekolah-masa-depan/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/model-sekolah-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 11:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Model Sekolah Masa Depan
&#160;
Upaya peningkatan kualitas sekolah tidak lepas dari upaya untuk untuk menyelenggarakan sekolah secara efektif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu sekolah yang memiliki karakteristik tertentu akan dapat mencapai tujuan sekolah secara efektif. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu sekolah dilakukan dengan menyosialisasikan program MBS yang dikemas dengan istilah MPMBS (Manajemen Peningkatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=707&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Model Sekolah Masa Depan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Upaya peningkatan kualitas sekolah tidak lepas dari upaya untuk untuk menyelenggarakan sekolah secara efektif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu sekolah yang memiliki karakteristik tertentu akan dapat mencapai tujuan sekolah secara efektif. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu sekolah dilakukan dengan menyosialisasikan program MBS yang dikemas dengan istilah MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). Dalam program MPMBS dipaparkan secara jelas perencanaan-Implementasi dan Monitor-evaluasinya. Hanya saja komponen-kompenen pada MBS kurang rinci dalam memaparkan aspek-aspek yang harus dicapai. Untuk menyempurnakan program pemerintah tersebut tampaknya perlu pengayaan referensi agar MPMBS dapat diimplementasikan lebih mudah.<span id="more-707"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara para pakar manajemen, terdapat ahli yang memiliki resep membuat sekolah menjadi efektif atau unggul. Ahli tersebut di antaranya adalah MacBeath &amp; Mortimer (2001), ada sembilan hal yang harus diperhatikan untuk mengelola sekolah secara efektif yaitu: (1) visi misi jelas, 2) kepala sekolah profesional, (3) guru profesional, (4) lingkungan belajar kondusif, (5) pendidikan berbasis ramah siswa, (6) manajemen kuat, (7) kurikulum luas tetapi seimbang diiringi strategi pembelajaran yang efektif, (8) penilaian dan pelaporan prestasi siswa yang bermakna, dan (9) pelibatan masyarakat secara positif-partisipatif. Penyelenggaraan sekolah efektif atau unggul hendaknya mengacu pada sembilan hal tersebut dengan beberapa penyesuaian dalam hal perencanaan. Berikut ini diuraikan sembilan hal yang perlu dikembangkan dalam penyelenggaraan sekolah unggul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada setiap karakteristik tersebut di atas dijabarkan lebih lanjut yang dapat dijadikan indikator sekolah efektif atau unggul.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. Visi dan Misi yang Jelas</strong></p>
<p>(1)   Harapan tinggi dari siswa dan guru ter<em>cover</em></p>
<p>(2)   Dorongan kepada siswa untuk belajar, bekerja, berbuat, dan mengeluarkan kemampuan terbaik.</p>
<p>(3)   Mengarahkan pengembangan intelektual, sosial, emosional, dan fisik siswa secara maksimal.</p>
<p>(4)   Menekankan pentingnya pengembangan kecakapan hidup, nilai-nilai positif, dan keterampilan interpersonal.</p>
<p>(5)   Pengakuan bahwa setiap siswa adalah individu berbeda, mempunyai latar belakang, kebutuhan, dan keinginan yang berbeda.</p>
<p>(6)   Penghargaan dan sambutan yang positif atas keragaman latar belakang siswa.</p>
<p>(7)   Penekanan bahwa pendidikan adalah usaha &amp; tanggung-jawab bersama antara guru, siswa, dan orang tua</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Kepala Sekolah Profesional</strong></p>
<p>(1)   Memiliki kualifikasi memadai, kompeten, berpengalaman.</p>
<p>(2)   Memimpin secara efektif dan menjalankan visi misi untuk membina &amp; memajukan masyarakat sekolah</p>
<p>(3)   Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu sekolah.</p>
<p>(4)   Mengelola sumber &amp; bahan dengan bijaksana.</p>
<p>(5)   Mampu bekerja sama dengan guru dan siswa.</p>
<p>(6)   Mampu bekerja sama dengan orang tua, komite, masyarakat dan badan terkait lainnya.</p>
<p>(7)   Meningkatkan moral staf sekolah</p>
<p>(8)   Meningkatkan belajar berkesinambungan dan melakukan pengembangan diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Guru Profesional</strong></p>
<p>(1)   Kualifikasi memadai dan kompeten</p>
<p>(2)   Mempunyai sikap positif dan moral yang tinggi.</p>
<p>(3)   Mendorong siswa untuk mencapai prestasi tinggi.</p>
<p>(4)   Mengembangkan keterampilan berpikir kritis pemecahan masalah, dan kreatifitas siswa.</p>
<p>(5)   Peka terhadap kebutuhan siswa.</p>
<p>(6)   Menegakkan disiplin.</p>
<p>(7)   Mengundang partisipasi orang tua.</p>
<p>(8)   Melakukan belajar kerkesinambungan dan pengembangan profesi.</p>
<p>(9)   Semua staf guru mempunyai keterampilan yang luas termasuk keterampilan dalam mata pelajaran dan dapat bekerja sama dan bekerja sebagai anggota tim yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Lingkungan Belajar Kondusif</strong></p>
<p>(1)   Lingkungan yang dapat menstimulasi siswa untuk betah belajar dan beraktivitas.</p>
<p>(2)   Bersih, aman, nyaman, dan hangat/ramah.</p>
<p>(3)   Tempat bagi semua orang untuk saling memperhatikan dan saling mendukung melalui hubungan yang positif.</p>
<p>(4)   Mempromosikan rasa saling memiliki dan kebanggaan terhadap sekolah.</p>
<p>(5)   Memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam organisasi intra sekolah.</p>
<p>(6)   Mempunyai aturan-aturan yang <em>sensible, </em>yang jelas dan dapat diterapkan/dilaksanakan</p>
<p>(7)   Mendukung kebijakan pengelolaan perilaku yang efektif yang ditopang oleh sistem pelayanan siswa yang efektif.</p>
<p>(8)   Lingkungan belajar yang terdisain baik sehingga siswa terundang untuk belajar (<em>invitation learning environment</em>)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>5. Pendidikan Berbasis Ramah Siswa</strong></p>
<p>(1)   Mendukung pengembangan potensi dan kemampuan siswa secara maksimal.</p>
<p>(2)   Menangani kesulitan yang dialami siswa secara efektif dan efisien.</p>
<p>(3)   Peka terhadap kebutuhan dan latar belakang individual siswa.</p>
<p>(4)   Berhubungan dengan <em>community support service and resources </em>yang tersedia di luar sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>6. Manajemen Kuat</strong></p>
<p>(1)   Memberdayakan potensi dan sumber sekolah secara efektif</p>
<p>(2)   Mengembangkan program dan refleksi dengan warga sekolah secara efektif</p>
<p>(3)   Mendasarkan pada perencanaan, pengembangan program, refleksi diri dan pengambilan keputusan secara kolaboratif.</p>
<p>(4)   Mendukung supervisi staf dan pengembangan profesi.</p>
<p>(5)   Luwes dalam mengorganisasi pembelajaran siswa dengan cara yang bervariasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>7. Kurikulum Luas tetapi Seimbang Diiringi Strategi Pembelajaran yang Efektif</strong></p>
<p>(1)   Kurikulum tersusun baik, tidak syarat dan memberatkan siswa, tetapi sesuai dengan kebutuhan siswa.</p>
<p>(2)   Memberikan berbagai pembelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan untuk semua mata pelajaran.</p>
<p>(3)   Memonitor aspek prestasi akademik, sosial, kepribadian, dan perkembangan fisik siswa.</p>
<p>(4)   Memastikan bahwa siswa mengembangkan sikap yang positif terhadap belajar.</p>
<p>(5)   Membantu siswa mengembangkan kecakapan hidup seperti percaya diri, memotivasi diri dan mengembangkan disiplin diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>8. Penilaian dan Pelaporan Prestasi Siswa yang Bermakna</strong></p>
<p>(1)   Memberi informasi akurat dan jelas tentang prestasi belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran dan perkembangan kemampuan sosial siswa.</p>
<p>(2)   Mengarahkan guru untuk menggunakan berbagai pendekatan mengajar yang paling sesuai.</p>
<p>(3)   Mengidentifikasi masalah belajar siswa dan cara menyelesaikannya bersamasama dengan orang tua.</p>
<p>(4)   Mengijinkan orang tua untuk mengobservasi dan memahami kemajuan belajar siswa.</p>
<p>(5)   Melakukan berbagai cara untuk mendukung pembelajaran efektif dan upaya meningkatkan rasa percaya diri siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>9. Pelibatan Masyarakat secara Positif-Partisipatif</strong></p>
<p>(1)   Mendorong orang tua untuk berkunjung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah.</p>
<p>(2)   Menekankan pentingnya kemitraan antara orang tua dan guru untuk memperoleh hasil pembelajaran yang lebih baik.</p>
<p>(3)   Sekolah dan guru tanggap terhadap pertanyaan, sudut pandang, kekhawatiran orang tua.</p>
<p>(4)    Sekolah membentuk jaringan kerja yang luas dengan mayarakat, termasuk dengan sekolah lain, dunia usaha/bisnis, LSM, atau organisasi pemerintahan yang lainnya.</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, guru, pendidikan, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/707/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=707&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/model-sekolah-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROFESIONALISME GURU</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/profesionalisme-guru/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/profesionalisme-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 11:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[PROFESIONALISME GURU
Istilah profesional pada umumnya adalah orang yang mendapat upah atau gaji dari apa yang dikerjakan, baik dikerjakan secara sempurna maupun tidak. (Martinis Yamin, 2007). Dalam konteks ini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah guru. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai sehingga kinerjanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=703&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>PROFESIONALISME GURU</strong></p>
<p>Istilah profesional pada umumnya adalah orang yang mendapat upah atau gaji dari apa yang dikerjakan, baik dikerjakan secara sempurna maupun tidak. (Martinis Yamin, 2007). Dalam konteks ini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah guru. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Wina Sanjaya, 2008). Dengan demikian seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru ”<em>a teacher is person sharged with the responbility of helping orthers to learn and to behave in new different ways</em>” (Cooper, 1990).<span id="more-703"></span></p>
<p>Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Pada prinsipnya setiap guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru senior untuk melakukan supervisi. Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh meningkatnya kinerja guru yang ditandai dengan kesadaran dan keterampilan melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.</p>
<p>Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Dari pengertian di atas seorang guru yang profesional harus memenuhi empat kompetensi guru yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen yaitu :</p>
<p>(1) Kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:</p>
<p>(a)    konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar;</p>
<p>(b)   materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;</p>
<p>(c)    hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;</p>
<p>(d)   penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan</p>
<p>(e)    kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.</p>
<p>(2) Kompetensi kepribadian, yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang:</p>
<p>(a)    mantap;</p>
<p>(b)   stabil;</p>
<p>(c)    dewasa;</p>
<p>(d)   arif dan bijaksana;</p>
<p>(e)    berwibawa;</p>
<p>(f)    berakhlak mulia;</p>
<p>(g)    menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;</p>
<p>(h)   mengevaluasi kinerja sendiri; dan</p>
<p>(i)     mengembangkan diri secara berkelanjutan.</p>
<p>(3) Kompetensi profesional, yaitu merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:</p>
<p>(a)    konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar;</p>
<p>(b)   materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;</p>
<p>(c)    hubungan konsep antar mata pelajaran terkait;</p>
<p>(d)   penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan</p>
<p>(e)    kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.</p>
<p>(4) Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk :</p>
<p>(a)    berkomunikasi lisan dan tulisan;</p>
<p>(b)   menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;</p>
<p>(c)    bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan</p>
<p>(d)   bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.</p>
<p>Menurut Suryasubroto (2002) tugas guru dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam tiga kegiatan yaitu</p>
<p>(a)    menyusun program pengajaran seperti program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester/catur wulan, program satuan pengajaran,</p>
<p>(b)   menyajikan/melaksanakan pengajaran seperti menyampaikan materi, menggunakan metode mengajar, menggunakan media /sumber, mengelola kelas/mengelola interaksi belajar mengajar,</p>
<p>(c)    melaksanakan evaluasi belajar: menganalisis hasil evaluasi belajar, melaporkan hasil evaluasi belajar, dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.</p>
<p>”Secara umum, baik sebagai pekerjaan ataupun sebagai profesi, guru selalu disebut sebagai salah satu komponen utama pendidikan yang amat penting” (Suparlan, 2006). Guru, siswa, dan kurikulum merupakan tiga komponen utama dalam sistem pendidikan nasional. Ketiga komponen pendidikan itu merupakan <em>condition sine quanon´ </em>atau syarat mutlak dalam proses pendidikan di sekolah.</p>
<p>Melalui mediator guru atau pendidik, siswa dapat memperoleh menu sajian bahan ajar yang diolah dalam kurikulum nasional ataupun dalam kurikulum muatan lokal. Guru adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator agar  siswa dapat belajar dan atau mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya</p>
<p>secara optimal, melalui lembaga pendidikan di sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat atau swasta.</p>
<p>Dengan demikian, dalam pandangan umum pendidik tidak hanya dikenal sebagai guru, pengajar, pelatih, dan pembimbing tetapi juga sebagai “<em>social agent hired by society to help facilitate member of society who attend schools</em>” (Cooper,1986).</p>
<p>Ke depan tuntutan meningkatkan kualitas guru yang profesional lagi hangat dibicarakan dan diupayakan oleh pemerintah sekarang. Guru profesional bukan lagi merupakan sosok yang berfungsi sebagai robot, tetapi merupakan dinamisator yang mengantar potensi-potensi peserta didik ke arah kerativitas. ”Tugas seorang guru profesional meliputi tiga bidang utama</p>
<p>(1)   dalam bidang profesi,</p>
<p>(2)   dalam bidang kemanusiaan, dan</p>
<p>(3)   dalam bidang kemasyarakatan” (Isjoni, 2006).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Indikator Profesionalisme Mengajar Guru</strong></p>
<p>Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui profesionalisme guru dalam mengajar antara lain adalah sebagai berikut (Wardani, dkk., 1996).</p>
<p>1. Keterampilan Bertanya Dasar dengan indikator.</p>
<ol>
<li>Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat.</li>
<li>Pemberian acuan (bahan referensi).</li>
<li>Pemusatan perhatian siswa.</li>
<li>Pemindahan giliran.</li>
<li>Penyebaran: (1) pertanyaan ke seluruh kelas, (2) pertanyaan ke siswa tertentu, dan (3) pertanyaan menyebarkan respons siswa.</li>
<li>Pemberian waktu berpikir.</li>
<li>Pemberian tuntunan: (a) pengungkapan pertanyaan dengan cara lain, mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana, dan mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya.</li>
</ol>
<p>2. Keterampilan Bertanya Lanjut.</p>
<ol>
<li>Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan: (1) ingatan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi.</li>
<li>Urutan pertanyaan</li>
<li>Petanyaan pelacak: (1) klasifikasi, (2) pemberian alasan,(3) kesepakatan pandangan, (4) ketepatan, (5) relevan, (6) contoh, dan (7) jawaban kompleks.</li>
<li>Mendorong interaksi antar siswa.</li>
</ol>
<p>3. Keterampilan Memberi Penguatan</p>
<ol>
<li>Penguatan verbal: (1) kata-kata dan (2) kalimat.</li>
<li>Penguatan nonverbal: (1) penguatan berupa mimik dan gerakan badan, (2) penguatan dengan cara mendekati, (3) penguatan dengan sentuhan, (4) penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, (5) penguatan berupasimbul atau benda, dan (6) penguatan penuh dan tidak penuh.</li>
<li>Cara Penggunaan Penguatan: (1) penguatan kepada sekelompok siswa, (2) penguatan kepada siswa tertentu, (3) pemberian penguatan dengan segera, dan (4) variasi dalam penguatan.</li>
<li>Prinsip Penggunaan Penguatan: (1) kehangatan dan keantusiasan,(2) kebermaknaan, dan (3) menghidari respons yang negatif.</li>
</ol>
<p>4. Keterampilan Menjelaskan</p>
<ol>
<li>Kejelasan: (1) guru menyadari adanya keterbatasan perbendaharaan kata-kata dan ungkapan yang dimiliki siswa sehingga guru tidakmenggunakan kalimat berbelit-belit, dan (2) guru menghindari penggunaan kata-kata yang tidak dipahami siswa.</li>
<li>Penggunaan Contoh dan Ilustrasi: (1) guru memberikan contoh yang cukup untuk menanmkan pengertian dalam penjelasannya, (2) guru menggunakan contoh-contoh yang relevan dengan sifat-sifat dari penjelasan itu, dan (3) contoh yang digunakan guru sesuai dengan usia,pengetahuan, dan latar belakang siswa.</li>
<li>Pengorganisasian: (1) guru menunjukkan dengan jelas pola atau struktur sajian, khusunya hubungan antara contoh-contoh dan generalisasi (hukum, rumus), dan (2) guru memberikan ikhtisar butir-butir yang penting baik selama pelajaran maupun pada akhir pelajaran, dan bila perlu memberikan penjabaran tambahan.</li>
<li>Penekanan: (1) guru mrngadakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal penting dalam penjelasannya, (2) butir-butir penting dalam penjelasan diberi tekanan dengan cara mengulanginya,mengatakan dalamkalimat lain, atau menyebutkan satu-satu demi satu. Misalnya: 1&#8230;&#8230; 2. &#8230;.. 3&#8230;&#8230;&#8230;. dan seterusnya, (3) penekanan yang berbeda diberi pula dengan mimik, isyarat, ataupun dengan gerakan selama pembelajaran berlangsung, dan (4) pemberian tekanan yang diberikan dengan menggunakan gambar-gambar,demonstrasi, atau benda sebenarnya.</li>
<li>Umpan Balik: (1) guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman, minat, atau sikap siswa tentang relevansi atau kegunaan penjelasan tersebut, dan (2) guru menggunakan umpan balik itu untuk menyesuaikan ketetapan atau mengubah maksud penjelasan itu.</li>
</ol>
<p>5. Keterampilan Menggunakan Variasi</p>
<ol>
<li>Guru menggunakan berbagai variasi metode mengajar dengan tepat.</li>
<li>Guru terampil menggunakan metode mengajar tersebut.</li>
<li>Guru menggunakan berbagai variasi media mengajar dengan tepat.</li>
<li>Guru terampil menggunakan media mengajar tersebut.</li>
</ol>
<p>6. Keterampilan Mengaja</p>
<ol>
<li>Manfaat pengalaman mengajar untuk meningkatkan keterampilan mengajar guru yang bersangkutan.</li>
<li>Relevansi pengalaman mengajar dengan dengan tugas mengajar.</li>
<li>Tingkat pemahaman terhadap teori belajar mengajar.</li>
<li>Relevansi materi dengan standar isi.</li>
<li>Relevansi materi dengan KTSP.</li>
<li>Alokasi waktu mengajar.</li>
<li>Alokasi waktu untuk mendiskusikan hasil pengamatan dengan supervisor (kepala sekolah).</li>
<li>Kualitas bimbingan supervisor (kepala sekolah).</li>
<li>Ketersedian fasilitas di kelas.</li>
<li>Ketersediaan media mengajar.</li>
<li>Inovasi pembelajaran.</li>
<li>Kesulitan-kesulitan mengajar.</li>
<li>Pemecahan masalah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan mengajar tersebut. Hal-hal yang diobservasi ketika guru mengajar antara lain adalah: (1) pendahuluan, (2) penyajian materi, (3) pemberian contoh, (4) penggunaan media/metode yang tepat dan variatif, (5) usaha memotivasi atau mengaktifkan siswa, (6) cara mengatur kelas atau manajemen kelas, (7) ketepatan waktu (mulai dan selesai) mengajar, (8) cara mengevaluasi hasil belajar, dan (9) cara menyimpulkan dan menutup pelajaran. Untuk memilih metode mengajar yang tepat harus disesuaikan dengan factor-faktor  yang mempengaruhinya seperti: (1) tujuan pembelajaran, tingkat kematangan siswa,(3) situasi kelas, (4) fasilitas sekolah, dan (5) kemampuan guru (Jamarah &amp; Aswar Zaini, 2002).</li>
</ol>
<p>7. Keterampilan Membuat Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP).</p>
<ol>
<li>Memadai dengan standar kompetensi.</li>
<li>Konsistensi pokok bahasan dengan kompetensi lulusan.</li>
<li>Memadai estimasi waktu.</li>
<li>Memadai referensi.</li>
</ol>
<p>8. Keterampilan Membuat Satuan Acara Pembelajaran (SAP)</p>
<ol>
<li>Memadai standar kompetensi.</li>
<li>Memadai tahap kegiatan.</li>
<li>K$onsistensi penyajian dengan kompetensi.</li>
<li>Memadai penyajian.</li>
<li>Memadai kegiatan siswa dengan guru.</li>
<li>Kesuaian media.</li>
<li>Keseuaian metode.</li>
<li>Memadai alat evaluasi.</li>
<li>Memadai penyelenggaraan evaluasi hasil belajar.</li>
</ol>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, berita, guru, pendidikan, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=703&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/29/profesionalisme-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indikator kepuasan kerja</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/700/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/700/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 12:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/700/</guid>
		<description><![CDATA[Indikator-indikator untuk mengukur kepuasan kerja menurut Minnosota
Satisfaction Questionare (MSQ) adalah seperti berikut.
1. Kebebasan memanfaatkan waktu luang.
2. Kebebasan bekerja secara mandiri.
3. Kebebasan berganti-ganti pekerjaan dari waktu ke waktu.
4. Kebebasan bergaul.
5. Gaya kepemimpinan atasan langsung.
6. Kompetensi pengawas.
7. Tugas yang diterima.
8. Kesempatan bertindak terhadap orang lain.
9. Persiapan kerja
10. Kebebasan memerintah.
11. Kebebasan memanfaatkan kemampuan.
12. Kebebasan menerapkan peraturan yang berlaku.
13. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=700&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Indikator-indikator untuk mengukur kepuasan kerja menurut <em>Minnosota</em></p>
<p><em>Satisfaction Questionare </em>(MSQ) adalah seperti berikut.<span id="more-700"></span></p>
<p>1. Kebebasan memanfaatkan waktu luang.</p>
<p>2. Kebebasan bekerja secara mandiri.</p>
<p>3. Kebebasan berganti-ganti pekerjaan dari waktu ke waktu.</p>
<p>4. Kebebasan bergaul.</p>
<p>5. Gaya kepemimpinan atasan langsung.</p>
<p>6. Kompetensi pengawas.</p>
<p>7. Tugas yang diterima.</p>
<p>8. Kesempatan bertindak terhadap orang lain.</p>
<p>9. Persiapan kerja</p>
<p>10. Kebebasan memerintah.</p>
<p>11. Kebebasan memanfaatkan kemampuan.</p>
<p>12. Kebebasan menerapkan peraturan yang berlaku.</p>
<p>13. Gaji yang diterima.</p>
<p>14. Kesempatan mengembangkan karir.</p>
<p>15. Kebebasan mengambil keputusan.</p>
<p>16. Kesempatan menggunakan metode kerja.</p>
<p>17. Kondisi kerja yang mendukung.</p>
<p>18. Kerja sama.</p>
<p>19. Penghargaan terhadap prestasi.</p>
<p>20. Perasaan pekerja terhadap prestasinya (Weiss, et al, 1989).</p>
Posted in motivasi diri Tagged: artikel, motivasi diri, prilaku <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/700/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/700/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=700&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/700/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sifat-sifat pemimpin yang efektif</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/sifat-sifat-pemimpin-yang-efektif/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/sifat-sifat-pemimpin-yang-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 12:02:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[prilaku]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Sifat-sifat pemimpin yang efektif menurut Kouzes &#38; Posner (2002) adalah
sebagai berikut 20 yaitu:
(1) jujur,
(2) memandang jauh ke depan,
(3) memberikan inspirasi,
(4) cakap,
(5) berpikiran adil,
(6) mau memberi dukungan,
(7) berpikiran luas,
(8) cerdas,
(9) lugas,
(10) dapat diandalkan,
(11) berani,
(12) mau bekerjasama,
(13) mempunyai imajinasi,
(14) peduli,
(15) bertekad kuat,
(16) dewasa,
(17) ambisius,
(18) setia,
(19) dapat mengendalikan diri, dan
(20) mandiri.
Keduapuluh sifat di atas berdasarkan penelitian Kouzes &#38; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=698&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sifat-sifat pemimpin yang efektif menurut Kouzes &amp; Posner (2002) adalah</p>
<p>sebagai berikut 20 yaitu:<span id="more-698"></span></p>
<p>(1) jujur,</p>
<p>(2) memandang jauh ke depan,</p>
<p>(3) memberikan inspirasi,</p>
<p>(4) cakap,</p>
<p>(5) berpikiran adil,</p>
<p>(6) mau memberi dukungan,</p>
<p>(7) berpikiran luas,</p>
<p>(8) cerdas,</p>
<p>(9) lugas,</p>
<p>(10) dapat diandalkan,</p>
<p>(11) berani,</p>
<p>(12) mau bekerjasama,</p>
<p>(13) mempunyai imajinasi,</p>
<p>(14) peduli,</p>
<p>(15) bertekad kuat,</p>
<p>(16) dewasa,</p>
<p>(17) ambisius,</p>
<p>(18) setia,<br />
(19) dapat mengendalikan diri, dan</p>
<p>(20) mandiri.</p>
<p>Keduapuluh sifat di atas berdasarkan penelitian Kouzes &amp; Posner terhadap 20.000 pemimpin sebagai responden di empat benua. Dari ke-20 sifat-sifat pemimpin yang ditemukan, mayoritas responden memilih empat sifat teratas yang harus dimiliki pemimpin yang efektif yaitu: (1) jujur, (2) memandang jauh ke depan, (3) mampu memberikan inspirasi, dan (4) kompeten. Kejujuran menimbulkan kepercayaan (<em>trust</em>).</p>
Posted in motivasi diri Tagged: artikel, motivasi diri, prilaku, psikologi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/698/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=698&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/10/28/sifat-sifat-pemimpin-yang-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR ISI</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/monitoring-dan-evaluasi-pelaksanaan-standar-isi/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/monitoring-dan-evaluasi-pelaksanaan-standar-isi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 06:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR ISI
elaksanaan Kebijakan Otonomi Daerah (Otoda) telah bergulir seiring dengan diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian disempurnakan melalui UU No. 32 tahun 2004 dan pelaksanaannya melalui PP no.38 tahun 2007. Dampak lebih lanjut dari diterapkannya otonomi daerah tersebut adalah juga otonomi di bidang pendidikan yang berwujud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=695&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR ISI</p>
<p>elaksanaan Kebijakan Otonomi Daerah (Otoda) telah bergulir seiring dengan diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian disempurnakan melalui UU No. 32 tahun 2004 dan pelaksanaannya melalui PP no.38 tahun 2007. Dampak lebih lanjut dari diterapkannya otonomi daerah tersebut adalah juga otonomi di bidang pendidikan yang berwujud pada pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36, 37, dan 38. Bersamaan dengan itu, telah dikeluarkan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang kemudian diikuti oleh suatu aturan operasional melalui Permendiknas no. 22, 23, dan 24 tahun 2006, tentang Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan pelaksanaan SI dan SKL, yang mana telah memberikan wewenang kepada daerah, &#8211; dalam hal ini sekolah sebagai unit terkecil dalam Sistem Pendidikan Nasional, &#8211; untuk mengembangkan sendiri kurikulum sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setempat.<span id="more-695"></span></p>
<p>Berkenaan dengan hal tersebut, sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 33 tahun 2007 tentang Sosialisasi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), maka masing-masing provinsi maupun kab/kota agar memiliki Tim Pengembang Kurikulum (TPK) yang bertugas melakukan sosialisasi dan pelatihan sesuai dengan tingkatan masing-masing. Diharapkan dengan terbentuknya TPK pada masing-masing tingkatan daerah, akan lebih mudah dalam melakukan tindakan koordinasi dan supervisi disamping juga langkah monitoring dan evaluasi dalam mengantisipasi segala permasalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan Standar Isi.</p>
<p>Selanjutnya, Pusat Kurikulum perlu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai oleh TPK pada tingkat provinsi untuk memperoleh data dan informasi mengenai keterlaksanaan KTSP pada tingkat nasional, sebagai bahan dalam menentukan kebijakan selanjutnya. Adapun pada tingkat provinsi, data dan informasi diperoleh dari tingkat Kabupaten/ Kota yang telah mengalami rekapitulasi. Tingkat Kabupaten/ Kota memperoleh data dan informasi langsung melalui sekolah-sekolah pada tingkat satuan pendidikan yang ada di wilayahnya.</p>
<p>Pengertian Monitoring dan Evaluasi</p>
<p>Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Standar Isi merupakan suatu kegiatan yang rencananya akan diselenggarakan secara rutin dalam periode tertentu. Antara monitoring dan evaluasi merupakan 2 kegiatan berbeda, namun tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Monitoring atau pemantauan merupakan suatu kegiatan mengamati secara seksama suatu keadaan atau kondisi, termasuk juga perilaku atau kegiatan tertentu, dengan tujuan agar semua data masukan atau informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan tersebut dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan. Tindakan tersebut diperlukan seandainya hasil pengamatan menunjukkan adanya hal atau kondisi yang tidak sesuai dengan yang direncanakan semula.</p>
<p>Sementara itu, evaluasi merupakan kegiatan yang menilai hasil yang diperoleh selama kegiatan pemantauan berlangsung. Lebih dari itu, evaluasi juga menilai hasil atau produk yang telah dihasilkan dari suatu rangkaian program sebagai dasar mengambil keputusan tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai dan tindakan selanjutnya yang diperlukan.</p>
<p>Dalam konteks ini, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap  pelaksanaan Standar Isi yang merupakan kelanjutan dari uji coba penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK)  atau kurikulum 2004. Selanjutnya Kurikulum 2004 ini mengalami penyempurnaan lebih lanjut dan disyahkan melalui Permendiknas no. 22, 23, dan 24 tahun 2006, walau sudah berubah nama menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) karena dapat dikembangkan sendiri oleh sekolah dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.</p>
<p>Permasalahan</p>
<p>Pelaksanaan sosialisasi Standar Isi yang berwujud pada pengembangan KTSP, telah berlangsung lama, mulai dari tahun 2006 hingga sekarang. Sosialisasi berlangsung dari tingkat Pusat hingga Provinsi dan Kabupaten/Kota. Muatan substansi sosialisasi tidak hanya berupa aturan dan konsep mengenai pengembangan KTSP saja, tetapi juga pengembangan praktis yang mengarah pada implementasinya di sekolah, seperti:</p>
<p>●    silabus</p>
<p>●    Penyusunan rencana pembelajaran</p>
<p>●    Penyusunan bahan ajar</p>
<p>●    Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM)</p>
<p>Segala macam kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan pengembangan  KTSP tersebut, dikuatirkan akan mengalami distorsi atau penyimpangan daripada yang seharusnya terjadi. Hal ini berkaitan dengan beberapa keadaan yang memungkinkan berlangsungnya suatu penyimpangan, seperti:</p>
<p>●    Misiformasi</p>
<p>Bahan/substansi materi yang cukup banyak berkaitan dengan pengembangan KTSP, untuk disosialisasikan dalam tempo yang terbatas, memungkinkan terjadinya beberapa informasi yang tidak lengkap untuk diterapkan di sekolah.</p>
<p>●    Misinterpretasi</p>
<p>Bahan/substansi materi sosialisasi sering diangggap sebagai hal baru dengan asumsi atau anggapan yang berbeda-beda oleh pelaksana pendidikan dari berbagai daerah dengan tuntutan kebutuhan dan kondisi yang berbeda-beda.</p>
<p>●    Miskomunikasi</p>
<p>Peserta sosialisasi yang berasal dari berbagai daerah, yang masing-masing saling berjauhan dan mengalami keterbatasan komunikasi, bisa menimbulkan anggapan yang berbeda-beda terhadap substansi materi yang sama</p>
<p>Di samping itu juga, segala macam keterbatasan kondisi tersebut dapat menimbulkan permasalahan bagi Kepala Sekolah dan Guru dalam mengembangkan KTSP. Oleh karena itu perlu suatu kegiatan yang dapat dengan segera mengidentifikasi adanya penyimpangan dan permasalahan tersebut untuk segera diambil langkah-langkah yang perlu dalam mengantisipasi segala bentuk penyimpangan/permasalahan yang ada.</p>
<p>Dalam  implementasi kebijakan tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa belum semua satuan pendidikan mampu mengembangkan dan menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara mandiri. Kemampuan mereka sangat beragam di berbagai jenis dan jenjang sekolah, begitu pula di setiap daerah provinsi, dan kabupaten/kota. Keragaman kemampuan ini tentunya akan berdampak pada keragamaan kualitas dari hasil penyusunan KTSP yang bisa menimbulkan dampak kesenjangan antara daerah satu dengan lainnya. Oleh karena itu, keberadaan TPK di provinsi dan juga di Kabupaten/ Kota diharapkan akan mampu mengatasi kesenjangan tersebut.</p>
<p>Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi</p>
<p>Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Standar Isi dilakukan secara bertingkat dimulai dari unit terkecil, yaitu satuan pendidikan atau sekolah, di bawah koordinasi Dinas Kabupaten/ Kota setempat. Selanjutnya, data dan informasi yang diperoleh diajukan ke Dinas Provinsi sebagai masukan pada tingkat provinsi. Terakhir, data dan informasi dari tingkat provinsi diajukan ke tingkat Pusat sebagai masukan penyelenggaraan monitoring dan evaluasi pada tingkat nasional (lihat diagram).</p>
<p>Hasil yang Diharapkan</p>
<p>Hasil yang diharapkan dari kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah</p>
<p>●    Data dan informasi tentang kebijakan pemerintah provinsi berkaitan dengan perberdayaan TPK provinsi dan pendampingan terhadap TPK kabupaten/Kota.</p>
<p>●    Data dan informasi tentang kebijakan pemerintah kabupaten/kota berkaitan dengan pemberdayaan TPK kabupaten/Kota dan pendampingan satuan pendidikan dalam pengembangan KTSP</p>
<p>●    Data dan informasi tentang pengembangan dan implementasi KTSP di  kabupaten/Kota.</p>
<p>Beberapa permasalahan yang timbul, misalnya pada keengganan responden daerah untuk mengisi kuesioner sesuai dengan fakta atau kenyataan yang  sebenarnya, bisa menimbuilkan data dan informasi yang diperoleh menjadi bias dan menyimpang dari yang seharusnya. Oleh karena itu, pemberian data dan informasi yang sebenar-benarnya dan bertanggung jawab, sangat diperlukan demi suksesnya kegiatan ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-694" title="struktur" src="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/07/struktur.jpg?w=640&#038;h=400" alt="struktur" width="640" height="400" /></p>
<p>*) <em>Dr. Sumiyati, M.Pd. adalah Kepala Bidang Kurikulum Pendidikan Dasar, Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.</em></p>
<p>Pemutakhiran Terakhir ( Senin, 20 April 2009 08:35 )</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, berita, guru, pendidikan, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/695/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=695&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/monitoring-dan-evaluasi-pelaksanaan-standar-isi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abihafiz.files.wordpress.com/2009/07/struktur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">struktur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FUNGSI DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/fungsi-dan-tanggungjawab-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/fungsi-dan-tanggungjawab-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 05:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[FUNGSI DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH


Komponen Kepala Sekolah sebagai PENDIDIK (EDUCATOR)

1.1.  Mampu membimbing guru.
1.1.1.      Menyusun program pengajaran; bukti fisik kalpend, jadpel, prosem, SP.
1.1.2.      Pelaksanaan program pengajaran dan BK; bukti fisik buku supervisi.
1.1.3.      Mengevaluasi hasil belajar; bukti fisik daf.nilai, analisis nilai, daya serap, jurnal evaluasi belajar.
1.1.4.      Melaksanakan program remidial.
1.2.  Mampu membimbing guru/karyawan/tenaga lainnya.
1.2.1.      Menyusun program kerja TU/karyawan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=692&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>FUNGSI DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH</strong></p>
<p align="center">
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PENDIDIK (EDUCATOR)</li>
</ol>
<p>1.1.  Mampu membimbing guru.</p>
<p>1.1.1.      Menyusun program pengajaran; bukti fisik kalpend, jadpel, prosem, SP.</p>
<p>1.1.2.      Pelaksanaan program pengajaran dan BK; bukti fisik buku supervisi.</p>
<p>1.1.3.      Mengevaluasi hasil belajar; bukti fisik daf.nilai, analisis nilai, daya serap, jurnal evaluasi belajar.</p>
<p>1.1.4.      Melaksanakan program remidial.<span id="more-692"></span></p>
<p>1.2.  Mampu membimbing guru/karyawan/tenaga lainnya.</p>
<p>1.2.1.      Menyusun program kerja TU/karyawan lainnya.</p>
<p>1.2.2.      Membuat daftar pembagian tugas guru/karyawan beserta uraian tugasnya baik tugas pokok maupun sampiran.</p>
<p>1.3.  Mampu membimbing siswa.</p>
<p>1.3.1.      Membuat buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler.</p>
<p>1.3.2.      Membuat daftar kegiatan di luar sekolah, seperti kunjungan edukatif, studi tur dan sejenisnya baik yang pernah dilaksanakan maupun yang direncanakan.</p>
<p>1.3.3.      Membuat daftar kejuaraan lomba atau kompetisi di luar sekolah.</p>
<p>1.4.  Mampu mengembangkan staf.</p>
<p>1.4.1.      Membuat buku administrasi keuangan rutin termasuk RAPBS.</p>
<p>1.4.2.      Membuat notulen pembinaan/rapat guru.</p>
<p>1.4.3.      Membuat daftar guru/karyawan yang pernah mengikuti pelatihan/penataran/seminar.</p>
<p>1.4.4.      Membuat daftar buku perpustakaan, inventarisasi buku, program pengembangan perpustakaan.</p>
<p>1.4.5.      Membuat daftar kenaikan jenjang/pangkat/jabatan bagi guru/karyawan.</p>
<p>1.4.6.      Membuat daftar guru yang diusulkan menjadi KS</p>
<p>1.5.  Mampu mengikuti perkembangan IPTEK</p>
<p>1.5.1.      Memiliki ijasah tambahan atau piagam pelatihan/penataran yang pernah diikuti.</p>
<p>1.5.2.      Memiliki buku notulen KKKS/KKG atau sejenisnya.</p>
<p>1.5.3.      Memiliki bukti/mengikuti kegiatan seminar/diskusi atau sejenisnya.</p>
<p>1.5.4.      Memiliki buku khusus bacaan KS ump. yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah.</p>
<p>1.5.5.      Mampu mengembangkan tradisi peduli/melek iptek di sekolah.</p>
<p>1.5.6.      Mampu mengembangkan kerjasama dengan pihak luar dalam rangka menunjang tradisi peduli iptek di sekolah.</p>
<p>1.6.  Mampu memberi contoh mengajar dan melaksanakan bimbingan konseling</p>
<p>1.6.1.      Memiliki jadwal pelajaran maksimal 6jam/minggu.</p>
<p>1.6.2.      Memiliki prosem, PSP, daftar nilai, analisis nilai, pelaksanaan BK</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PENGELOLA/PENGATUR (MANAGER)</li>
</ol>
<p>2.1.  Mampu menyusun program.</p>
<p>2.1.1.      Memiliki program jangka panjang (8 tahun)</p>
<p>2.1.2.      Memiliki program jangka menengah (4 tahun)</p>
<p>2.1.3.      Memiliki program jangka pendek (1 tahun)</p>
<p>2.2.  Mampu menyusun organisasi/personalia di sekolah.</p>
<p>2.2.1.      Mampu menyusun personalia sekolah : KS, wakil KS, wali kelas, TU, dsb.</p>
<p>2.2.2.      Mampu menyusun personalia pendukung : pembina kegiatan ekstra</p>
<p>2.2.3.      Mampu menyusun personalia kegiatan temporer : kepanitian PSB, THB, Hari besar Islam, dsb.</p>
<p>2.3.  Mampu menggerakkan staf guru dan karyawan.</p>
<p>2.3.1.      Mampu membuat daftar hadir guru/karyawan yang diprosentase dan ditandatangani oleh KS setiap bulan.</p>
<p>2.3.2.      Mampu membuat daftar pembina apel pagi.</p>
<p>2.3.3.      Mampu membuat buku catatan alibi guru/karyawan.</p>
<p>2.4.  Mampu mengoptimalkan sumber daya sekolah.</p>
<p>2.4.1.      Mampu memanfaatkan SDM secara optimal</p>
<p>2.4.1.1.Daftar rekapitulasi kehadiran guru.</p>
<p>2.4.1.2.Buku kendali kedisiplinan pegawai</p>
<p>2.4.2.      Mampu memanfaatkan sarana prasarana secara optimal</p>
<p>2.4.2.1.Sarana prasarana pendukung proses pembelajaran.</p>
<p>2.4.2.2.Sarana prasarana pendukung non pembelajaran.</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai ADMINISTRATOR</li>
</ol>
<p>3.1.  Mampu mengelola administrasi KBM dan BK</p>
<p>3.1.1.      Administrasi KBM dan BK</p>
<p>3.1.1.1.Buku kurikulum tiap tingkat</p>
<p>3.1.1.2.Jadwal pelajaran</p>
<p>3.1.1.3.Kalender pendidikan</p>
<p>3.1.1.4.Program tahunan atau semesteran</p>
<p>3.1.1.5.PSP</p>
<p>3.1.1.6.Daftar nilai</p>
<p>3.1.1.7.Program remidi dan pengayaan</p>
<p>3.1.1.8.Analisis nilai dan daya serap</p>
<p>3.1.1.9.Perkembangan siswa</p>
<p>3.1.1.10.        Daftar buku pegangan guru dan penunjang</p>
<p>3.1.1.11.        Buku kumpulan soal tes</p>
<p>3.1.1.12.        Buku daftar perpustakaan</p>
<p>3.1.2.      Buku bimbingan siswa/kelas</p>
<p>3.2.  Mampu mengelola administrasi siswa</p>
<p>3.2.1.      Data administrasi siswa</p>
<p>3.2.1.1.Buku induk siswa</p>
<p>3.2.1.2.Daftar calon siswa baru yang diterima 3 tahun terakhir</p>
<p>3.2.1.3.Daftar mutasi siswa</p>
<p>3.2.1.4.Daftar tamatan/kelulusan siswa dengan lampiran fc STTB</p>
<p>3.2.1.5.Daftar kelas/presensi kelas</p>
<p>3.2.1.6.Papan presensi siswa</p>
<p>3.2.1.7.Data statistik siswa</p>
<p>3.2.1.8.Buku catatan piket siswa</p>
<p>3.2.1.9.Buku penghubung orangtua siswa</p>
<p>3.2.1.10.        Buku klaper</p>
<p>3.2.1.11.        Buku daftar siswa keluar</p>
<p>3.2.1.12.        Daftar prestasi siswa</p>
<p>3.2.2.      Buku data kegiatan ekstrakurikuler</p>
<p>3.2.2.1.Daftar kegiatan dan pembimbing ekstrakurikuler</p>
<p>3.2.2.2.Daftar prestasi lomba/kompetisi siswa</p>
<p>3.3.  Mampu mengelola administrasi ketenagaan</p>
<p>3.3.1.      Data administrasi guru/karyawan</p>
<p>3.3.1.1.File dokumen dari masing-masing guru/karyawan</p>
<p>3.3.1.2.Buku Induk Pegawai</p>
<p>3.3.1.3.Buku cuti pegawai</p>
<p>3.3.1.4.Daftar urut kepegawaian</p>
<p>3.3.1.5.Data statistik kepegawaian</p>
<p>3.3.2.      Data tenaga teknis, TU, pustakawan, dsb</p>
<p>3.4.  Mampu mengelola administrasi keuangan</p>
<p>3.4.1.      Data administrasi keuangan</p>
<p>3.4.1.1.RAPBS</p>
<p>3.4.1.2.Daftar penerimaan gaji</p>
<p>3.4.1.3.Catatan penerimaan keuangan dan barang</p>
<p>3.4.1.4.Penyimpanan keuangan</p>
<p>3.4.2.      Buku keuangan koperasi</p>
<p>3.4.3.      Keuangan BP3</p>
<p>3.4.4.      Buku keuangan kegiatan ekstrakurikuler</p>
<p>3.5.  Mampu mengelola administrasi sarana prasarana dan data administrasinya</p>
<p>3.5.1.      Daftar inventaris gedung/ruangan</p>
<p>3.5.2.      Daftar inventaris peralatan/perabotan</p>
<p>3.5.3.      Daftar inventaris KBM/Alat peraga</p>
<p>3.5.4.      Daftar inventaris tiap ruangan</p>
<p>3.5.5.      Daftar penghapusan barang</p>
<p>3.5.6.      Penomeran sesuai dengan kode barang</p>
<p>3.5.7.      Buku agenda kegiatan sekolah</p>
<p>3.5.8.      Kelengkapan data administrasi buku perpustakaan</p>
<p>3.6.  Mampu mengelola administrasi persuratan dan lainnya</p>
<p>3.6.1.      Buku agenda surat masuk</p>
<p>3.6.2.      Buku agenda surat keluar</p>
<p>3.6.3.      Buku surat keputusan/surat tugas.</p>
<p>3.6.4.      Buku ekspedisi surat</p>
<p>3.6.5.      Buku notulen rapat</p>
<p>3.6.6.      Buku tamu umum</p>
<p>3.6.7.      Buku tamu dinas</p>
<p>3.6.8.      Buku Peminjaman barang</p>
<p>3.6.9.      Buku Penelitian</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PENILIK (SUPERVISOR)</li>
</ol>
<p>4.1.  Mampu menyusun program supervisi</p>
<p>4.1.1.      Program supervisi kelas/KBM</p>
<p>4.1.2.      Program supervisi kegiatan ekstrakurikuler</p>
<p>4.1.3.      Program supervisi kegiatan administrasi sekolah</p>
<p>4.1.4.      Program supervisi lingkungan</p>
<p>4.1.5.      Program supervisi kegiatan unit-unit</p>
<p>4.2.  Mampu melaksanakan program supervisi</p>
<p>4.2.1.      Program supervisi kelas/KBM</p>
<p>4.2.2.      Program supervisi kegiatan ekstrakurikuler</p>
<p>4.2.3.      Program supervisi kegiatan administrasi sekolah</p>
<p>4.2.4.      Program supervisi lingkungan</p>
<p>4.2.5.      Program supervisi kegiatan unit-unit</p>
<p>4.3.  Mampu memanfaatkan hasil supervisi</p>
<p>4.3.1.      Memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru/karyawan</p>
<p>4.3.2.      Memanfaatkan hasil supervisi untuk pengembangan sekolah</p>
<p>4.3.3.      Memanfaatkan hasil supervisi untuk melakukan kerjasama/kemitraan dengan pihak luar guna menunjang proses KBM</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PEMIMPIN (LEADER)</li>
</ol>
<p>5.1.  Memiliki  kepribadian kuat</p>
<p>5.1.1.      Berperilaku santun</p>
<p>5.1.2.      Jujur</p>
<p>5.1.3.      Percaya diri</p>
<p>5.1.4.      Bertanggungjawab</p>
<p>5.1.5.      Berani mengambil resiko</p>
<p>5.1.6.      Berjiwa besar</p>
<p>5.2.  Memahami kondisi guru/karyawan/siswa</p>
<p>5.2.1.      Memahami kondisi guru</p>
<p>5.2.2.      Memahami kondisi karyawan</p>
<p>5.2.3.      Memahami kondisi siswa</p>
<p>5.3.  Memiliki dan memahami visi, misi dan tujuan pendidikan sekolah</p>
<p>5.3.1.      Memiliki visi tentang sekolah yang dipimpin</p>
<p>5.3.2.      Memiliki misi yang diemban sekolah</p>
<p>5.3.3.      Memiliki pemahaman aplikatif tujuan pendidikan</p>
<p>5.4.  Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan</p>
<p>5.4.1.      Mampu mengambil keputusan untuk urusan intern sekolah</p>
<p>5.4.2.      Mampu mengambil keputusan untuk urusan ekstern sekolah</p>
<p>5.5.  Memiliki kemampuan komunikasi</p>
<p>5.5.1.      Mampu berkomunikasi secara lisan</p>
<p>5.5.2.      Mampu menuangkan gagasan/inisiatif dalam bentuk tulisan</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PEMBAHARU (INOVATOR)</li>
</ol>
<p>6.1.  Mampu mencari/menemukan gagasan baru untuk pembaharuan sekolah</p>
<p>6.1.1.      Mampu mencari/menemukan gagasan baru (berinisiatif tinggi)</p>
<p>6.1.2.      Mampu mengadopsi gagasan baru dari pihak lain</p>
<p>6.2.  Mampu melakukan pembaharuan di sekolah</p>
<p>6.2.1.      Mampu melakukan pembaharuan di bidang KBM/BK</p>
<p>6.2.2.      Mampu melakukan pembaharuan di bidang pengadaan dan pembinaan tenaga guru dan karyawan</p>
<p>6.2.3.      Mampu melakukan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler</p>
<p>6.2.4.      Mampu melakukan pembaharuan dalam menggali sumber dana untuk sekolah dari masyarakat</p>
<p>6.2.5.      Mampu melakukan pembaharuan di unit-unit pendukung sekolah.</p>
<p>6.2.6.      Mampu melakukan pembaharuan dalam hal kemitraan guna mendukung program-program sekolah</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai PENDORONG (MOTIVATOR)</li>
</ol>
<p>7.1.  Mampu mengatur lingkungan kerja (fisik)</p>
<p>7.1.1.      Mampu mengatur ruang kantor guru/KS yang kondusif untuk bekerja</p>
<p>7.1.2.      Mampu mengatur ruang kelas yang kondusif untuk KBM</p>
<p>7.1.3.      Mampu mengatur ruang tempat penyimpanan alat peraga</p>
<p>7.1.4.      Mampu mengatur ruang perpustakaan</p>
<p>7.1.5.      Mampu mengatur ruang penunjang kegiatan belajar maupun bekerja</p>
<p>7.1.6.      Mampu mengatur lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur</p>
<p>7.2.  Mampu mengatur lingkungan kerja (non fisik)</p>
<p>7.2.1.      Mampu menciptakan lingkungan kerja</p>
<p>7.2.2.      Mampu menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru</p>
<p>7.2.3.      Mampu menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama karyawan</p>
<p>7.2.4.      Mampu menciptakan hubungan yang harmonis antara sekolah dengan lingkungan sekitar/masyarakat</p>
<p>7.3.  Mampu menerapkan prinsip reward/punishment</p>
<p>7.3.1.      Mampu menerapkan prinsip penghargaan/reward</p>
<p>7.3.2.      Mampu menerapkan prinsip hukuman/punishment</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai Unsur LOYALITAS</li>
</ol>
<p>8.1.  Mampu menerapkan kurikulum nasional yang berlaku</p>
<p>8.1.1.      Memiliki buku kurikulum nasional yang berlaku</p>
<p>8.1.2.      Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku</p>
<p>8.1.3.      Melakukan pengembangan kurikulum yang ada</p>
<p>8.2.  Partisipasi dalam hari besar nasional</p>
<p>8.2.1.      Mengirim peserta untuk mengikuti kegiatan peringatan hari besar nasional</p>
<p>8.2.2.      Melaksanakan dan memiliki dokumen kegiatan hari besar nasional</p>
<p>8.2.3.      Peran serta warga sekolah pada hari besar nasional</p>
<ol>
<li>Komponen Kepala Sekolah sebagai Unsur KREDIBILITAS dan AKUNTABILITAS</li>
</ol>
<p>9.1.  Mampu memberikan layanan kepada konsumen (siswa, orangtua siswa, masyarakat)</p>
<p>9.1.1.      Kecepatan layanan</p>
<p>9.1.2.      Ketepatan layanan</p>
<p>9.1.3.      Keramahan layanan</p>
<p>9.1.4.      Kevalidan layanan</p>
<p>9.2.  Mampu memberikan akuntabilitas pada masyarakat berkenaan dengan layanan</p>
<p>9.2.1.      Mampu memberikan informasi yang valid kepada konsumen berkenaan dengan kualitas pendidikan</p>
<p>9.2.2.      Mampu memberikan informasi yang valid kepada konsumen berkenaan dengan keuangan program kegiatan sekolah</p>
<p>9.3.  Mampu memberikan kenyamanan dan keamananan belajar bagi siswa</p>
<p>9.3.1.      Memberikan kenyamanan belajar bagi siswa baik lingkungan maupun situasi dan kondisi sekolah</p>
<p>9.3.2.      Memberikan keamanan belajar bagi siswa baik lingkungan maupun situasi dan kondisi sekolah.</p>
<p>9.4.  Mampu memberikan jaminan output siswa pada konsumen</p>
<p>9.4.1.      Memberikan jaminan kualitas output siswa dari segi perkembangan kognisi</p>
<p>9.4.2.      Memberikan jaminan kualitas output siswa dari segi perkembangan afeksi</p>
<p>9.4.3.      Memberikan jaminan kualitas output siswa dari segi perkembangan psikomotor</p>
<p>9.4.4.      Memberikan jaminan kualitas output siswa dari segi life skills</p>
<p>9.4.5.      Memberikan jaminan kualitas output siswa dari segi kepribadian</p>
<p>(sumber : Komponen Kinerja Kepala Sekolah)</p>
Posted in pendidikan Tagged: artikel, guru, pendidikan, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=692&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/30/fungsi-dan-tanggungjawab-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketidak stabilan emosi (BT)</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/ketidak-stabilan-emosi-bt/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/ketidak-stabilan-emosi-bt/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 06:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[motifasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa permasalahan hidup terkadang membuat kita kehilangan mood atau kita sering mengenalnya dengan BT hal tersebut dapat di disebabkan karena Kemacetan lalu lintas, keadaan rumah atau kantor yang  menjengkelkan, Keadaan tidak seperti yang kita inginkan dapat membuat banyak rencana berantakan, memang banyak hal-hal yang membuat perasaan dan suasana hati menjadi tidak enak keadaan dimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=688&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa permasalahan hidup terkadang membuat kita kehilangan mood atau kita sering mengenalnya dengan BT hal tersebut dapat di disebabkan karena Kemacetan lalu lintas, keadaan rumah atau kantor yang  menjengkelkan, Keadaan tidak seperti yang kita inginkan dapat membuat banyak rencana berantakan, memang banyak hal-hal yang membuat perasaan dan suasana hati menjadi tidak enak keadaan dimana emosi kita menjadi kacau.<span id="more-688"></span></p>
<p>Terkadang jika dilanda perasaan kesal atau tidak menentu dan perasaan atau suasana hati menjadi tidak enak, terkdang kita tidak mengetahu pa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya,hati ini terasa ingin marah, cemas, jengkel, bermacam-macam emosi negatif lain bercampur aduk, dalam situasi ini kadang kita ingin sendiri, dan tidak ada seseroang pun yang menggangu kita</p>
<p>Dalam keadaan kondisi emosi tidak stabil seperti ini, membuat hasil kerja tak akan baik, salah-salah hubungan kita dengan orang lain malah bertambah buruk. Pendek kata, tak ada kebaikan yang bisa diberikan oleh perasaan yang tidak stabil<br />
Jadi sudah semestinya kita bisa meredakan mood yang tidak enak Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita<br />
meredakan mood yang buruk atau BT</p>
<p>1. Sadari bahwa anda sedang mengalami ketidakstabilan Emosi (BT)</p>
<p>Kunci utamanya adalah menyadari bahwa anda sedang dilanda gejolak emosi. Bila anda tahu anda sedang marah, setidaknya anda bisa menolong diri sendiri untuk meredakan kemarahan. ketidakstabilan Emosi (BT) biasanya tidak gampang dijabarkan dengan jelas, tetapi begitu anda mengalami suasana hati yang runyam, segera sadari keadaan itu. Sadari juga efek dari ketidakstabilan Emosi (BT): mutu kerja merosot, kehilangan kustomer, negoisasi gagal, dan banyak lagi yang buruk. Jadi, cepat atasi bad mood anda sebelum mengganggu kerja anda berkepanjangan.</p>
<p>2. Tenangkan diri anda<br />
Saat anda  sudah sadar bahwa anda sedang kebakaran dalam api ketidakstabilan Emosi (BT).Sekarang, tenangkan diri anda. Tarik nafas dalam-dalam berulang kali sampai ketegangan dalam diri anda reda. Lakukan relaksasi sederhana, misal, bernafas secara teratur sambil memejamkan mata,dengarkan musik,  Coba reguklah 1 gelas air putih, atau manjakan diri anda Atau berdoa agar anda diberi kesabaran,</p>
<p>3. Selesaikan persoalan anda sesegera mungkin/cari jalan keluar</p>
<p>ketidakstabilan Emosi (BT), biasanya disebabkan oleh adanya persoalan. Maka menyelesaikan persoalan adalah pemecahan yang jitu. Jika anda bertengkar, segera selesaikan, berdamailah dan saling maaf-memaafkan. Bila anda berbeda pendapat dengan kolega atau atasan, lakukan diskusi dengan kepala dingin. Jika acara anda berantakan, lakukan janji ulang dan susun<br />
rencana baru. Jangan biarkan persoalan terus menggantung, itu memperpanjang penderitaan ketidakstabilan Emosi (BT) anda.</p>
<p>4. Bergerak, bergerak, dan bergeraklah</p>
<p>Jangan berdiam diri. Bergeraklah. Lakukan olahraga ringan. Buat diri anda berkeringat dan lelah. Bila anda diam saja, maka &#8220;ulat-ulat&#8221; emosi akan terus menggerogoti pikiran anda dan membuat anda terbayang-bayang hal yang tidak-tidak. Bergerak, bergerak, dan bergeraklah.</p>
<p>5. Segarkan diri anda.</p>
<p>Intinya sama dengan bergerak, lakukan sesuatu agar diri anda segar. Minum air putih banyak-banyak. Cuci muka dengan air segar. Makan dan minumlah sesuatu yang alami dan segar, seperti jus jeruk. Tetapi jauhi alkohol. Ia takkan banyak membantu, malah memperburuk saja. Jauhi gula, cokelat, makanan yang mengenyangkan, softdrink, dan sebagainya. Ini justru<br />
membuat anda kenyang, malas dan mengantuk. Kondisi demikian, alih-alih menjernihkan pikiran anda, malah memperbesar &#8220;bad mood&#8221; anda saja.</p>
<p>6. Jauhi amarah, pikiran dan emosi negatif lain.</p>
<p>Marah dan emosi-emosi negatif itu menghabiskan energi. Bila anda merasa &#8220;bad mood&#8221; sedang menyerang, kuatkan hati untuk tidak marah. Bersabarlah. Coba pandang wajah &#8220;bad mood&#8221; anda di cermin. Tak menyenangkan bukan?</p>
<p>7. Bergembiralah dengan teman-teman anda.</p>
<p>Sebaliknya, dekati teman-teman anda yang bisa memberikan kegembiraan. Temukan &#8220;refreshing&#8221; di sana. Tertawa dan tersenyumlah bersama mereka. Cegah &#8220;bad mood&#8221; dengan membina hubungan yang baik dan sehat dengan teman-teman anda. Hidup ini lebih mudah dilalui bersama mereka yang ceria ketimbang yang murung. Jangan tenggelam dalam kesedihan.</p>
<p>8. Coba lah lebih sabar dan toleransi kepada keadaan<br />
Sabar adalah menerima dengan ikhlas apa yang terjadi, karena keikhlasan diri atau pikiran akan membuat emosi kita lebih dapat di kontrol,</p>
<p>9. Berusahalah untuk lebih menikmati hidup ini.<br />
Ya, semua &#8220;kecelakaan&#8221; atau kekacauan itu adalah bagian dari hidup. Terimalah itu apa adanya. Jangan berburuk sangka pada hidup ini. Pasti ada pelajaran di balik semua kesulitan. Nikmati saja.</p>
<p>Memang masalah yang mempengaruhi anda bisa terjadi setiap saat dimanasaja, kapan saja, tapi apakah anda mau hari anda berantakan atau membuat hari anda tetap indah&#8230;. silahkan tanyakan diri anda.. karena anda yang bisa dan mau untuk menjawabnya. ..</p>
<p>Ingatlah&#8230;manusia yang bijak adalah manusia yang bisa mengendalikan emoinya.</p>
<p>Ketidak stabilan emosi (BT)<br />
Dari:<br />
&#8220;Reno Irma&#8221; &lt;aisyah_0@yahoo.com&gt;</p>
Posted in motivasi diri Tagged: artikel, berita, guru, keluarga, motifasi diri, motivasi diri, psikologi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=688&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/ketidak-stabilan-emosi-bt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khalifah Gila?</title>
		<link>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/khalifah-gila/</link>
		<comments>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/khalifah-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 06:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua dan anak]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abihafiz.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Gila?
Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yangmenjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.
Dulu Umar sering [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=686&subd=abihafiz&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Khalifah Gila?</p>
<p>Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yangmenjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.<span id="more-686"></span></p>
<p>Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?</p>
<p>Abdurrahman bin Auf,  sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.</p>
<p>Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum&#8217;at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, &#8220;Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukititu, bukit itu!&#8221;Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannyadengan isi khotbah yang disampaikan. &#8220;Wah, khalifah kita benar-benar sudahgila,&#8221; gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu.</p>
<p>Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apasebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,&#8221;Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbahengkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?&#8221; Umar dengan tenangmenjelaskan, &#8220;Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkanSuriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaumpengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuhdari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankandiri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!&#8221;</p>
<p>Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. &#8220;Lalu, mengapa engkaudulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan salatfardhu?&#8221; tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, &#8220;Aku menangis kalau teringatkebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuankuhidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patungdari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belumbisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justrulebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau?Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjidtempatnya berkhotbah?</p>
<p>Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yangkirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binarmeskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yangdiderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.</p>
<p>Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakatMadinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. &#8220;Kami dikepungoleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudahluluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat salatJumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuahseruan gaib yang tajam dan tegas: &#8220;Bukit itu, bukit itu, bukit itu!&#8221; Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itusebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan</p>
<p>kami.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pulamasyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahmankemudian berkata, &#8220;Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahiadat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya&#8221;</p>
<p>Dari buku Kisah Teladan &#8211; K.H. Abdurrahman Arroisi</p>
Posted in cerita Tagged: anak, ayah, family, guru, keluarga, orang tua dan anak, sekolah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abihafiz.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abihafiz.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abihafiz.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abihafiz.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abihafiz.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abihafiz.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abihafiz.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abihafiz.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abihafiz.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abihafiz.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abihafiz.wordpress.com&blog=3620169&post=686&subd=abihafiz&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abihafiz.wordpress.com/2009/07/28/khalifah-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4164fecacddc0ef23b588a2868da9728?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">warmansaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>