Kenapa kita ria?

Posted on 30 Oktober 2009. Filed under: Tausyiah | Tags: , , , , , , |

Kenapa kita ria?

Hawa nafsu pasti berusaha memuaskan syahwat dan merengkuh kenikmatan. Kenikmatan tertinggi bagi syahwat adalah kemenangan, penghormatan, keterhindaran dari hal yang menyakiti dan perolehan segala sesuatu yang menyenangkannya.

Hawa nafsu menyadari semua manusia – entah orang baik, pemaksiat, ataupun presiden atau raja selaku sosok paling agung dimata manusia – pasti menghormati, memuji dan mendekati orang saleh dengan berbagai cara. Mereka bahkan rela mengorbankan harta dan jiwa demi mengabdi kepadanya. Menyadari hal ini, hawa nafsu menggerakkan seseorang supaya pura-pura menaati Allah Swt, agar dicintai, dihormati dan didekati orang-orang dengan berbagai cara. Dengan kata lain, supaya perkataannya didengar, perintahnya dipatuhi, kesalahannya dimaafkan, tidak dimusuhi, dan tidak disakiti.

Celakalah orang yang senang saat ibadahnya terlihat orang lain? Menurut Ibn al Jawzi (dalam Syam al Diin ibn muflih al Hanbali, al Adab al Syar’iyyah wa al Manh al Mar’iyyah, I h. 148), orang itu tidak tercela asalkan ia berusaha merahasiakan dan mengikhlaskan ibadah demi AllahSwt semata. Jadi ketika ibadahnya dilihat orang lain, Allahlah yang memperlihatkan kebaikannya kepada manusia. Ia lantas berbahagia atas perhatian dan kasih saying  Tuhan dalam menutupi maksiatnya dan menampakkan ibadahnya. Dengan begitu, kebahagiaannya bukan karena pujian manusia atau penghormatan mereka. Sebagaimana Allah Swt memperlihatkan kebaikannya dan menutupi aibnya didunia, ia yakin bahwa Allah akan berbuat sama kepadanya di akhirat.

Jadi ada tiga factor penyebab ria :\

  1. Ingin dihormati dan dikagumi. Inilah penyebab utama yang melahirkan dua penyebab berikutnya.
  2. Ingin meraup keuntungan dan harta dari tangan orang lain.
  3. Menghindari bahaya.

Kiat memberangus ria

Ria bisa dipadamkan dengan :

  1. Mengingatkan diri bahwa Allah Swt. takkan memberikan hidayah atau membersihkan kalbu kepada orang yang ria.
  2. Mengkhawatirkan murka Tuhan kala Dia melihat hati dicemari ria.
  3. Menyesali berkurang atau hilangnya pahala karena tidak ikhlas.
  4. Menyesali berkurangnya ganjaran di akhirat.
  5. Membayangkan murka dan siksa Allah di akhirat.
  6. Menyadari bahwa Allah Swt dapat saja menyegerakan siksa-Nya di dunia, sehingga pe-ria dibenci dan dijauhi masyarakat.
  7. Merendahkan keistimewaan dunia yang disengani manusia dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dibenci Allah Swt.
  8. Memandang rendah keistimewaan duniawi sesuai dengan ajaran Allah Swt.
  9. Meyakini bahwa mendekatkan diri kepada manusia menjauhkan diri dari Allah Swt adalah orang yang dihempaskan ke tempat yang jauh sehingga tersesat  dan benar-benar merugi.
  10. Meyakini bahwa harapan dipuji makhluk adalah tercela disisi Allah Swt.
  11. Mengisafi bahwa hukumam terberat adalah ketika Allah Swt memperlihatkan ambisi peria untuk meraih keridaan manusia dan berpaling dari-Nya di akhirat. Pada hari ketika kebaikan sekecil apapun  sangat dibutuhkan , peria akan gemetar mendapati amal ibadahnya sia-sia.
  12. Menyadari bahwa keridaan manusia bisa dan tidak tetap. Perbuatan yang dianggp baik dan diridai seseorang bisa dianggap buruk dan dibenci orang lain.
  13. Menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh dengan ria adalah semu dan justru mendatangkan kerugian, sebab kedudukan terhormat dalam hati masyarakat diraih dengan cara tidak benar. Boleh jadi Allah Swt membongkar kedoknya, sehingga peria dibenci, dijauhi, disakiti dan tidak dilindungi. Inilah kerugian yang nyata ; rugi di dunia dan di akhirat.

Make a Comment

Make a Comment: ( 1 so far )

blockquote and a tags work here.

One Response to “Kenapa kita ria?”

RSS Feed for Menuju Insan Smart Comments RSS Feed

Mengerjakan amal ibadah dengan tujuan ria akan mengurangi bahkan menghilangkan pahala. akan tetapi sekarang ini banyak orang yang melakukan kebaikan karena ingin disanjung dan dihormati oleh orang lain. sungguh sangat berbeda dengan orang dahulu yang melakukan pemberian kepada orang lain secara sembunyi-sembunyi (hanya dirinya dan Tuhannya yang mengetahui).


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...