Syirik bag. 2
BENTUK-BENTUK SYIRIK
Banyak kegiatan atau perbuatan-perbuatan yang mengandung syirik yang tanpa kita sadari dan jika dijaman dahulu justru hal itu memang mereka lakukan karena belum mengenal Allah, belum mengenal Tuhan yang menciptakan diri mereka dan alam semesta beserta isinya. Perbuatan-perbuatan tersebut bahkan sampai sekarang masih berlangsung bahkan terlihat lebih modern sehingga mereka tidak menyadari karena mereka telah terasuk, terinspirasi dan fatamorgana karena tidak mampu melihat yang sebenarnya. Seperti orang yang membanggakan ilmu pengetahuan, membanggakan teknologi padahal semua itu karena dibukakannya ilmu oleh Allah kepada mereka. Bentuk-bentuk syirik ini dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
1. Taqorrub (Mendekatkan diri selain pada Allah)
“Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata) : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” QS 39 Az Zumar : 3
Contoh perbuatan ini adalah
·Menyembah batu/patung sebagaimana firman Allah :
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza. Dan yang lain yang ketiga yaitu Manat. Apakah patut untuk kamu anak laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakan. Allah tidak menurunkan sesuatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” QS An Najm 19-23
·Menyembah pohon sabda Rasulullah dari Abu Waqid al Laits
“Suatu saat kami pergi ke Hunain bersama Rasulullah saw sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzatu Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu. Ketika kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata “Ya Rasululllah buatkanlah untuk kami Dzatul Anwath sebagaimana mereka punyai. Maka Rasulullah bersabda :
اَلله ُاَكْبَرَ إِ نَّهَا لسَّـنَنُ قُلْـتُمْ وَالَّذِى نَفْسٍى بِيَدِهِ كَمَا قَا لَتْ بَنُوْ إِ سْرَئِيْلَ لِمُوْسَى ( اِجْعَلْ لَنَا اِلَهًا كَمَالَهُمْ اَلِهَةً , قَالَ : إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ ) لَتَرْ كَبـُنَّ سُنَنٌ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ (رواه الترمذى وصححه)
“Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu) demi Allah yang diriku berada di tanganNya, kamu benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa (buatkalah untuk kami sesembahan, sebagaimana mereka mempunyai sesembahan. Musa menjawab : sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti) Pasti kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” HR At Turmidzi dan dinyatakan shahih. Bertabarruk dengan pohon atau semisal dengan keduanya adalah kesyirikan dan amalah orang-orang musyrik. Para ulama sepakat bahwa bertabarruk (meminta berkah) pada pohon, batu atau tempat-tempat yang dikeramatkan atau daerah-daerah tertentu lainnya adalah tidak ada syariatnya. Sikap tabarruk ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap benda-benda terntu secara bertahap yang akhirnya sampai berdoa dan beribadah kepadanya. Ini adalah syirik akbar menurut kadar kesyirikannya. Hukum ini berlaku umum dan untuk semua hal termasuk makam Nabi Ibrahim atau kamar Nabi Muhammad saw, batu-batu Baitul Maqdis ataupun yang lainnya. Mengagungkan sang Khaliq dan bentuk ibadah kepadaNya seperti sholat dengan menghadap kearah kiblat (Ka’bah) adalah merupakan ibadah yang benar, tapi bertabarruk pada batu, pohon dan lainnya berarti meng-agungkan dan menuhankan makhluk.
Perbedaan antara keduanya seperti berbedaan berdoa kepada Allah yang terpancar dari keikhlasan dan tauhid, sedangkan dengan berdoa kepada makhluk yang merupakan bentuk kesyirikan dan membuat tandingan bagi Allah.
·Menjadikan kuburan orang-orang saleh sebagai tempat ibadah
Imam Malik dalam kitab al Muwatha’ meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِى وَثَناً يُعْبَدُ اِشْتَدَّ غَضَبَ اللهِ عَلىَ قَوْمِ اتَّخَذُوْاقُبـُوْ رَاَنْبِيَا ئِهِمْ مَسَاجِدُ
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata :
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ اْلقُبُوْرِ وَالْمُتَّخِذِيْنَ عَلَيْهَا اْلمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ (رواه اهل السنن)
“Rasulullah saw melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan dan orang-orang yang membuat tempat ibadah serta penerangan lampu di atas kuburan.” HR Ahlus Sunan.
2. Istisyfa’ (Memohon pertolongan selain pada Allah)
“Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula mendatangkan) kemanfaatan dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” QS 10 Yunus : 18
Contoh perbuatan ini antara lain :
· Ruqyah
· Tamimah termasuk syirik tanpa terkecuali.
· Tiwalah
Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir al Anshari bahwa dia pernah bersama Rasulullah saw dalam salah satu perjalanan beliau, lalu beliau mengutus seseorang untuk (menyampaikan) :
اَنْ لاَ يَبْقَيَنَّ فِى رَقَبَةِ بَعِيْرِقِلاَ دَ ةٌ مِنْ وَتَرٍ اَوْ قِلاَ دَ ةٌ اِ لاَّ قُطِعَتْ
“Supaya tidak terdapat lagi kalung dari tali busur panah atau kalung apapun di leher unta, kecuali harus diputuskan.”
Ibnu Mas’ud menuturkan : Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda :
إِ نَّ الرُّ قَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَالَةَ شِرْك ٌ(رواه احمد وابو داود)
“Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tilawah adalah syirik.” HR Ahmad dan Abu Daud
Tamimah merupakan sesuatu yang biasa dikalungkan pada anak-anak yang berfungsi untuk menangkal ‘ain (penyakit). Jika yang dikalungkan ini berupa ayat-ayat suci al Quran maka sebagian ulama salaf membolehkanya, namun sebagian juga tidak memberi keringanan sama sekali, mereka tetap menganggap bahwa hal itu tetap terlarang. Diantaranya Abdullah Ibnu Mas’ud.
Ruqyah disebut juga azimah.. Ruqyah diperbolehkan jika terbebas dari unsur-unsur syirik. Seperti ruqyah yaitu untuk penyembuhan dengan pembacaan ayat-ayat al Quran atau dengan do’a-do’a.
Tiwalah adalah sesuatu yang mereka buat dengan anggapan bahwa benda tersebut dapat menjadikan seorang isteri semakin cinta dengannya atau seorang suami terhadap isterinya.
3. Cinta dan Loyal yang berlebihan selain pada Allah dan RasulNya
Sikap yang melampaui batas (guluw) yaitu beranggapan bahwa orang-orang yang shalih mempunyai hak-hak khusus yang hanya dimiliki Allah. Sesungguhnya kesempurnaan, kekayaan, hak merubah adalah mutlak milik Allah, tidak ada yang memiliki selainNya, maka tidak ada hak ubudiyah dan hak uluhiyah kecuali Allah. Barang siapa yang bersikap ghuluw kepada makhluk, sehingga mempunyai hal-hal tersebut diatas, maka telah menyamakan makhluk dengan rabb semesta alam. Ini adalah syirik terbesar. Barang siapa yang mengangkat orang-orang shalih melebihi kedudukan yang telah diberikan Allah kepadanya maka ia telah bersikap ghulul yang bisa menghantarkan kepada kesyirikan dan meninggalkan dien.
Diriwayatkan dari Umar bahwa Rasulullah saw bersabda :
لاَ تُطْرُوْنِى كَمَا اَطْرَتِ النَّصَارَى اِبْنِى مَرْ يَمَ اِنَّمَا اَ نَا عَيْدٌ فَقُوْ لُوْا : عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْ لُهُ
“Janganlah berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang nashrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : “Abdullah wa Rasulullah” (hamba dan utusan Allah). HR Bukhari dan Muslim
Begitu pula dalam mengangkat pemimpin dan perbuatan kita terlalu loyal terhadap mereka bahkan terlalu membanggakan diri mereka yang telah kita pilih tadi termasuk perbuatan syirik.
Orang-orang yang tidak boleh kita jadikan pemimpin antara lain :
- Orang Yahudi dan Nasrani sebagaimana firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kamu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang-orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS 5 Al Maidah : 51
- Orang kafir sebagaimana firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” QS 9 At Taubah : 23
- Orang yang memusuhi Islam
“Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan sedang mereka mengetahui.” QS 58 Al Mujaadillah : 14
- Orang yang mengejek agama Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang kafir (orang-orang musyrik).” QS 5 Al Maidah : 57
4. Patuh dan taat :
a. Selain pada Allah
b. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Seperti telah dijelaskan melalui ayat-ayat diatas bahwa kita dilarang untuk pemimpin yang membawa kita kepada kekafiran, membawa kita jauh dari agama. Memang kita mengetahui bahwa sangat susah kita untuk menyangkal akan keadaan sekarang ini. Kita dapat mengetahui bahwa pemimpin-pemimpin yang berada dipemerintahan kita sangat jauh dari agama Islam. Banyak hal-hal yang bisa dijauhi tapi dengan dalih keamanan dan stabilitas nasional mereka tak memperdulikannya. Dan hanya sedikit dari kalangan pemimpin yang mengetahui dan mau mengambil pelajaran. Firman Allah :
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amatlah sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). QS 7 Al A’raaf : 3
Pemimpin-pemimpin sekarang bahkan banyak yang memutar balikkan antara yang halal yang benar dengan dijadikannya haram. Begitu pula sebaliknya yang haram dijadikannya halal.
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah [4] dan (juga mereka mempertuhankan) al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” QS 9 At Taubah : 31
4. PENGARUH-PENGARUH SYIRIK :
- Memadamkan cahaya-cahaya hidayah dan fitrah
Hidayah adalah sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Tidak semua orang bisa diberi hidayah akan agama, yang membuat kita mengerti hal-hal yang harus dikerjakan menurut agama menurut perintah Allah. Hidayah itu fitrah, bersih dan suci. Jadi perbuatan-perbuatan syirik telah dilakukan maka lambat-laun cahaya hidayah itu akan lenyap dari diri kita.
- Mengikuti syahwat
Perbuatan syirik itu dilakukan memang karena mengikuti hawa nafsu. Mereka menginginkan sesuatu bukannya meminta kepada yang berhak dimintai yaitu Allah. Mereka bersujud tetapi tidak kepada yang menciptakan diri kita yaitu Allah.
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” QS 22 Al Hajj : 31
- Hilangnya harga diri/kemulian.
Orang yang mempersekutukan Allah tentu harga dirinya tidak ada nilainya lagi. Dia tiada memiliki kehormatan disisi Allah. Dia sudah dilaknat oleh Allah.
- Terhapusnya amal (batal amalnya)
Sudah barang tentu jika kita telah berbuat syirik (menyekutukanNya) maka semua perbuatan baik yang dilakukan itu tiada nilainya. Karena banyak orang yang didunia ini berbuat baik terhadap sesama manusia. Firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka ia telah berbuat dosa yang besar.” QS 4 An Nisa’ : 48
“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan) niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” QS 39 Az Zumar : 65
- Masuk dalam neraka dengan kekal.
إ نَّ ا للهَ لا يَغـْـفِـرُ أ نْ يُـشْـرَ كَ ِبهِ وَ يَغـْـفِـرُ مَا دُ وْن ذ َا لِكَ لِمَنْ يَـشـَـآءُ . النساء : 116
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tetapi Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” QS 4 An Nisa’ : 116
Diriwayatkan dari Ibny Masud bahwa Rasulullah bersabda :
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْ عُوْ مِنْ دُوْ ِن اللهِ نِدَّا دَخَلَ النـَّا ِر (رواه البخارى )
“Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah selain Allah, masukkanlah ia ke dalam neraka.” HR Bukhari
Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda :
مَنْ لِقىَ اللهَ لا يُشْرِكُ ِبهِ شَـيْئًا دَ خَلَ ا لجَنَّة َ وَ مَنْ لَقِيَة ُ يُشْرِكُ ِبهِ شَيْئًا دَ خَلَ ا لنَّا رَ
“Barang siapa menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepadaNya sedikitpun, pasti masuk surga, tetapi barang siapa yang menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat sesuatu kesyirikan kepadanya pastilah masuk neraka.”
Al Quran al Karim
Al Maroghi, Ahmad Musthofa, Tafsir al Maroghi,Thoha Putra, Semarang
As Suyuthi, Djamaluddin dan Djalauddin al Mahally, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung
Hadhiri, Choiruddin SP, Klasifikasi Kandungan Al Quran, Gema Insani Pers, Jakarta
Faridl, Miftah, Pokok-pokok ajaran Islam, Pustaka, Bandung
As Saidi, Abdur Rahman bin Nasir, Al Qoulus Sadid-Syarah Kitab Tauhid, Pustaka Arafah, Solo.
Amrullah, Haji Abdul Malik Karim (HAMKA), Tafsir Al Azhar, Latimojong, Surabaya .
An Nawawi, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf, Riadhus Sholihin, Al Ma’arif, Bandung
Samarqondi, Al Faqih Abu Laits, Tanbihul Ghafilin, Mutiara Ilmu Surabaya .
Abbas, Abul Zainudi Ahmad bin Ahmad bin Abdul Lathif Asy Syiraji Az Zubaidi, Terjemah At Tajrid Ash Shorih (Shohih Bukhari), Penerjemah Muhammad Zuhri, Toha Putra, Semarang .
An Nawawi, , Shohih Muslim bi Syarhi An-Nawawi, Penerjemah Makmur Daud, Widjaja, Jakarta
Muhammad, Dr. Ibrahim bin Abdullah Al Buraikhan, Rabbani Press, Jakarta.
Sabiq, Sayyid, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Diponegoro, Bandung.
Zaini, Drs. Syahminan, Kuliah Aqidah Islam, Al Ikhlas, Surabaya.
Hasbi, Teungku Muhammad Ash Shiddiqy, PT. Pustaka Rizky Putra, Semarang
[1] Yang dimaksud bulan haram disini adalah masa 4 bulan yang diberi tangguh kepada kaum musyrikin itu yaitu mulai 10 dzulhijah (hari turunnya ayat ini) sampai 10 Rabi’ul akhir. Dikala itu kaum musyikin mengadakan perjanjian dengan Nabi Muhmmad saw. Kaum musyikin mengingkari perjanjian itu. Jika telah habis masa perjanjian itu yaitu antara bulan tersebut diatas maka tiada lagi perdamaian lagi dengan orang-orang musyrikin itu.
[2] Tamimah adalah sejenis jimat yang biasanya dikalungkan di leher anak-anak.
[3] Khamishah dan khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan diberi sulaman atau garis-garis yang menarik dan indah. Maksud ungkapan Rasulullah saw €“wallahu a’lam- dengan sabdanya tersebut ialah untuk menunjukkan orang yang sangat ambisi dengan kekayaan duniawi, sehingga menjadi hamba harta benda. Mereka itulah orang-orang yang celaka dan sengsara.
[4] Mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka degan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal. Al Quran dan Terjemahannya hadiah dari Khadim al Haramain asy Syarifain Tahun 1420 H





<br /
Semoga kita dijauhkan dari syirik Besar dan syirik kecil yang tersembunyi dalam hati …
sufimuda
29 Agustus 2008