Menggali Kreativitas Anak Bangsa
Siapa bilang bentuk fisik atau disain komputer harus selalu konvensional. Berbentuk kubus atau persegi panjang dan menjemukan. Dari segi estetika pun tidak mampu rangsangan mata untuk menikmati bentuk fisiknya, selain hanya memanfaatkan kegunaannya sebagai bagian dari perkembangan teknologi.
Sudah saatnya membuang jauh-jauh pandangan seperti itu. Perpaduan kolaborasi seni dan teknologi ternyata menjadikan bentuk komputer yang konvensional itu lebih artistic dan tentunya tentu tidak meninggalkan fungsionalitasnya.
Pernahkah terbayang dalam benak kita sebuah central processing unit (CPU) berbentuk kloset. Begitu dibuka penutupnya ternyata berisi rangakaian sirkuit komputer. Atau desain sebuah piano mini yang sungguh merangsang indra penglihatan. Atau sebuah aquarium yang isinya perangkat-perangkat komputer sebagai alat bermain ikan-ikan hias didalamnya.
Jangan pula berpikir ini adalah ini adalah hasil kreativitas yang diimpor untuk menarik pengunjung dalam sebuah pameran. Semuanya itu tak lain adalah hasil kretifitas anak bangsa dan dapat disaksikan dalam pameran Indocomtech di Jakarta Convention Center yang berlangsung sejak 6 sampai 10 oktober mendatang.
Tak mengherankan begitu pameran dibuka oleh Menteri Komunika dan Informasi, Syamsul Mu’arif, para pengunjung beramai-ramai menyaksikan keunikan-keunikan kretifitas anak bangsa tersebut. Adalah Intel Inside, produsen prosesor komputer yang punya gawe untuk menggali kreativitas mereka dalam bentuk kompetisi merakit atau mendesain CPU.
Menggali Potensi
Hayina, dari agensi Intel kepada SH mengatakan, event-event seperti ini memang bertujuan untuk menggali potensi dan kreativitas sekaligus untuk lebih memperkenalkan komputer ke tengah-tengah masyarakat.
Dimulai dengan sosialisasi ke masyarakat sejak bulan awal Agustus 2004 lalu dan September sudah tersaring finalis sebanyak 147 dan disaring lagi menjadi 20 kontestan dengan masing-masing 10 kontestan untuk dua kategori pelajar dan umum yang kemudian dipamerkan di JCC saat ini.
Selain hadiah uang bagi pemenang, Hayina mengata-kan karya terbaik akan mendapat kesempatan karyanya dipinjang selama enam bulan untuk dipamerkan atau dievaluasi apakah dapat digunakan sebagai ide baru yang dapat dijual ke pasar. “Sebagai contoh salah satu pemenang kompetisi di Singapura yang dipamerkan disini,” kata Hayina.
Sama seperti Hayina, para peserta menganggap ajang ini adalah sebuah kesempatan yang besar dimana mereka dapat lebih mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri.
Yulianto, salah satu peserta asal Tulungagung misalnya. Meskipun ia mengaku perkembangan teknologi Informasi di kota kelahirannya terbilang lambat bahkan sangat ketinggalan, ternyata tidak membuat dirinya terlalu pesimistis dan buta oleh kondisi yang ada.
Baginya ini adalah pengalaman pertama dan mengharapkan even-even sejenis terus dikembangkan pula, tidak hanya pada desainnya saja namun juga pada inovasi teknologi itu sendiri.
“Pameran ini untuk masyarakat sebagai pengenalan alih teknologi. Sedang untuk saya mengakspresikan dan menggali kreativitas diri,” katanya.
Demikian halnya Arif, mahasiswa ITB yang terpilih sebagai salah satu finalis memberikan komentar yang sama. Hanya saja, menurutnya peserta yang terlibat dalam kompetisi ini masih didominasi dari pulau jawa.
Menurutnya, masih banyak masyarakat dari daerah lain yang mungkin belum tahu adanya even seperti ini namun punya ide brilian atau luar biasa untuk dituangkan membantu perkembangan teknologi informasi di negara kita.
“Ajang ini menjadi semacam wawasan ke masyarakat ternyata desain itu memang perlu dan penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Tidak hanya barang-barang fungsional tapi juga dari fungsi itu bisa ditambah nilai-nilai khusus dengan menampilkan kretifitas,” kata arif.(fel)
Menggali Bakat Musik Anak
Televisi swasta yang membuat acara pencari bakat telah melahirkan banyak idola baru terutama di bidang musik. Fenomena itu mungkin telah menaikkan semangat Anda untuk mencoba mengasah bakat musik dari anak Anda. Akademi Fantasi Indosiar (AFI) Yunior, misalnya, telah melambungkan nama-nama penyanyi cilik. Samuel AFI, Albert AFI, misalnya, lebih banyak dikenal anak SD dibandingkan nama Diptarama sebagai siswa yang berprestasi dalam olimpiade sains baru-baru ini. Bila Anda juga tergerak untuk mengikuti langkah tersebut, “kenali” dulu potensi buah hati Anda.
Kenali Bakat “Anak saya sangat berbakat di bidang musik. Ia berminat mendengarkan musik dan berjoget bila mendengar musik.” Mungkin itu alasan Anda untuk menilai anak Anda berbakat bermusik atau menyanyi. Namun, Anda perlu menelusuri lebih jauh bakat anak Anda itu. Pada umumnya, bila anak Anda memiliki keistimewaan di bidang musik yang sangat menonjol dibandingkan anak seusianya, bisa jadi itulah bakatnya. Anak yang memiliki bakat istimewa acapkali telah menampakkannya sejak muda. Mozart misalnya, telah mampu memainkan harpsichord, sejenis keyboard yang dimainkan manual, pada usia tiga tahun. Ia juga sudah menggubah lagu pada usia lima tahun. Sesungguhnya, anak memiliki perasaan terhadap musik sejak dilahirkan. Perkembangan musikal anak pertama kali dimulai dari mendengar dan kemudian menggerak-gerakkan anggota tubuh sesuai dengan irama. Menjelang usia enam tahun, sebetulnya kemampuan anak menyelaraskan gerak dengan irama lagu semakin jelas terlihat.
Bakat membutuhkan sarana pengembangan Tanpa latihan serius dan sarana memadai, bakat tetap tinggal sebagai potensi dan tidak menelurkan prestasi apa-apa. Seorang anak yang berbakat di bidang musik tidak akan dapat memperlihatkan kepandaiannya tanpa belajar musik secara serius. Sebaliknya, anak yang memiliki bakat musik tidak terlalu hebat, tetap akan menjadi pemain musik yang andal bila ia belajar musik secara serius. Karena itu, bakat musik seseorang akan lebih berkembang bila didukung dengan pengajaran dan lingkungan yang tepat. Anda tinggal menyediakan sarana dan latihan yang memadai untuk mengembangkan bakat itu. Salah satu langkah untuk mengasah bakat musik anak Anda itu adalah mengirimnya belajar musik lembaga kursus atau privat. Pengenalan berbagai jenis alat musik akan baik bagi pengembangan bakat anak. Hal itu penting karena para ahli pendidik musik di luar negeri belum dapat menemukan cara yang pasti untuk meramalkan keberhasilan seorang anak memainkan alat musik tertentu. Sebab, kenyataannya banyak sekali anak yang mulai dengan alat musik hanya untuk mengetahui bahwa itu bukan alat yang cocok untuknya.
Minat cukup menentukan Thomas Alva Edison pernah menyatakan bahwa “dirinya tidak pernah bekerja sehari pun, seluruhnya adalah keasyikan”. Karenanya, minat anak merupakan hal yang penting, dan perlu menjadi target pengembangan. Dr Sinichi Suzuki, seorang pendidik musik berkebangsaan Jepang telah membuktikan bahwa bakat musik seseorang tidak selalu dibawa semenjak lahir. Menurutnya, seorang anak dapat belajar musik seperti halnya ia belajar bahasa ibu meskipun tidak semua orang menjadi ahli bahasa. Ludwig van Beethoven, misalnya, memiliki ayah pemabuk dan kasar. Tetapi, ia hidup di lingkungan keilmuan dan seni yang menunjang pengembangan bakatnya. Gedung-gedung konser, musikus yang hidup di zamannya memberikan polesan suasana yang sangat kondusif bagi pengembangan bakatnya. (herita endriana)





<br /
Memang peran ortu penting banget ya buat mengembangkan potensi anak…
blog anak soleh
7 Juli 2008