Takut Neraka
Ditulis oleh warmansaja di/pada 30 Juni 2008
Marilah kita hidup bersama Ibadurrabman, bersama akhlak yang mereka iniliki, yang Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Firman-Nya, “Dan, hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan, orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan, orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al-Furqan: 63-66).
Allah mensifati hamba-hamba ini sebagai berikut: 1. Berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan ini merupakan keadaan di dalam diri mereka. 2. Mengucapkan kata-kata yang baik jika mereka disapa orang-orang yang bodoh. Ini merupakan keadaan mereka bersama orang lain. 3. Melalui waktu malam hari dengan bersujud dan berdiri menighadap Rabb mereka. Ini merupakan keadaan bersama Allah. Di kala orang-orang lain lalai dan tidur pulas, mereka itu justru bangun, shalat menghadap kepada Allah. Firman-Nya,
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18).
Lalu apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Tiada lain adalah takut dan berharap. Mereka takut kepada Allah. Mereka ingat akhirat, seakan kehidupan akhirat dan neraka terpampang di hadapan mereka secara nyata. Mereka tidak lupa urusan mereka yang pertama, bahwa mereka Sedang dalam perjalanan kepada Allah. Meskipun mereka hidup di dunia ini, tapi toh mereka akan mati. Setelah kematian itu mereka dibangkitkan, dan setelah dibangkitkan mereka akan dihisab, setelah itu entah ke surga dan entah ke neraka. Maka tidak heran jika neraka Jahannam seakan terpampang nyata di hadapan mereka. Karena itulah Allah mensifati mereka, Ibadurrahman dengan firman-Nya,
“Orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dan kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’.”
Adakah tempat yang lebih buruk dari neraka Jahannam, yaitu tempat tinggal yang disediakan Allah bagi orang-orang durhaka, pendusta dan kafir dan hamba-hamba-Nya?
Wahai kaum Muslimin! Takutlah api neraka, takutlah Jahannam, karena Allah telah befirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dan api neraka yang bahan bakarnya adalah man usia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasan, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).
Sekiranya kematian itu merupakan garis finish dari kehidupan ini, maka permasalahannya bisa menjadi enteng. Tapi kematian itu sendiri lebih keras bagi sesuatu sebelumnya dan lebih mudah bagi sesuatu sesudahnya. Setelah kematian ada kebangkitan. Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada hisab, timbangan, penyerahan kitab. Engkau tidak tahu apakah engkau menenima kitab itu dengan tangan kanan ataukah dengan tangan kiri. Engkau tidak tahu ke sisi mana timbangan engkau, ke sisi kebaikan ataukah ke sisi keburukan? Apakah timbangan engkau menjadi berat sehingga engkau termasuk dalam golongan orang-orang yang hidupnya diridhai, ataukah timbanganmu menjadi ringan sehingga engkau akan dilemparkan ke neraka?
Di sana ada sakaratul-maut. Di sana ada kuburan dan himpitannya. Di sana ada hisab, timbangan, surga dan kenikmatannya, neraka dan siksaannya. Sementara lbadurrahman (orang yang mendapat rahmat dari Allah Yang Maha Rohman) memusatkan perhatian ke neraka Jahannam, yang seakan-akan neraka itu hendak meluluhlantakkan diri mereka dan lidahlidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka. Karena itu mereka berdoa, “Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dan kami.” Sebab setiap orang akan menuju ke neraka dan lewat di atasnya. Apakah engkau mengira bahwa engkau akan selamat menyeberangi jembatan di atas neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah engkau dapat melewatinya secara cepat ataukah engkau melewatinya secara tertatih-tatih dan akhirnya jatuh di dalamnya? Firman Allah,
“Dan, tidak ada seorang pun dari kamu sekalian rnelainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 71-72).
Ada seorang pemuda yang shalih, bernama Ibnu Abi Maisarah biasa menangis ketika menghampiri tempat tidurnya. Dia berkata, “Sekiranya saja ibu tidak pernah melahirkan aku.”
Ibunya berkata, “Wahai anakku, Allah telah berbuat baik kepadamu ketika menuntun dirimu kepada Islam.” Dia berkata, “Wahai ibu, tapi Allah telah mengabarkan bahwa kita semua akan menghampiri neraka, dan tidak mengabarkan apakah kita bisa keluar dan sana.” Setiap orang di antara kita akan menghampiri neraka. Adakah yang mengabarkan kepadamu siapa yang bisa selamat dan siapa yang tidak selamat dan neraka itu?
Yang menjadi masalah wahai kaum Muslimin, dan ini merupakan masalah setiap manusia, bahwa hari akhirat itu benar-benarjauh dan pikiran mereka. Mereka tidak mau memikirkan kecuali kehidupan yang ada saatini, kemaslahatan yang dekat dan kesenangan yang langsung dirasakan sekarang. Apa yang tetjadi besok dan sesudahnya, benar-benarjauh dan pikiran mereka dan sama sekali tidak membayang dalam sanubari mereka. Padahal urusannya sangat dekat, dan segala sesuatu yang akan datang itu dekat. Firman Allah,
‘Tidaklah kejadian kiamat itu melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat lagi” (An-Nahl: 77).
Beliau memohon kepada Allah agar dilindungi dari siksa api neraka, padahal dosa beliau yang lampau dan mendatang telah diampuni Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan lbnu Abbas, beliau mengajarkan doa berikut ini kepada para shahabat, sebagaimana beliau mengajarkan surat dan Al-Qur’an, yaitu,
“Ucapkanlah, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari cobaan Al-Masih Ad-Dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari cobaan hidup serta mati’.” (Muttafaq Alaihi).
Doa ini pula yang beliau ucapkan di akhir setiap shalat setelah tasyahhud, dan itulah yang disunatkan bagi kita, agar kita melaksanakannya. Bahkan lbnu Hazm mewajibkan doa ini untuk dibaca di akhir setiap shalat.
Adakah urusan yang Iebih besar dari surga dan neraka? Kemana engkau melangkah, ke surga ataukah ke neraka? Beliau bersabda,
“Aku tidak melihat yang seperti neraka. Orang yang lari darinya justru tidur. Aku juga tidak melihat yang seperti surga. 0rang yang mencarinya justru tidur.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan Ath-Thabrany).
Hiduplah di dunia menurut kehendakmu, mau tujuh puluh tahun, Seratus tahun, dua ratus tahun atau seribu tahun. Lalu bagaimana kesudahannya? Tetap saja kematian. Lalu ada apa setelah kematian itu? Boleh jadi ke surga dan boleh jadi ke neraka. Suatu hari Rasulullab Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para shahabat, “Demi yang diriku ada di TanganNya, sekiranya kalian melihat apa yang pernah kulihat, niscaya kalian tertawanya sedikit dan banyak menangis.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau lihat?” Beliau menjawab, ‘Aku pernah melihat surga dan neraka.” (Diriwayatkan Muslim).
Manusia harus berada di antara takut dan berharap, tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa aman dan tipu daya Allah, dan tidak pula terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa terhadap rahmat Allah. Tapi jika seseorang merasa dosanya terlalu banyak, kedurhakaannya menumpuk, kitabnya dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus lebih banyak merasa takut dari pada berharap, selalu mengingat dosa-dosanya dan tidak melalaikannya, menghisab dirinya sebelum dihisab, menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada diri sendiri sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “
Apa yang telah engkau lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini bisa meluruskan, membuat dia menyadari apa yang telah luput, lalu membenahi apa yang telah diabaikannya, sehingga hari ini lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari pada hari ini. Beginilah keadaan orang-orang Mukmin sebagaimana firman Allah,
“Dan, Dia yang menjadikan malam dan slang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. “(AlFurqan: 62).
Isa putra Maryam pernah berkata, “Berapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”
Padahal kelak teriakan kesakitan itu tidak berguna bagi engkau, dan itu hariya berguna bagi kehidupan sekarang. Kelak yang ada adalah hisab dan bukan amal. Sementara sekarang adalah amal dan belum ada hisab. Maka beramallah sekarang untuk kelak, agar dirimu selamat dari neraka. Di antara doa yang biasa diucapkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah,
“Dan aku memohon surga kepada-Mu dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan atau perbuatan.” (Diriwayatkan Ibnu Majah). Beliau bersabda,
“Siapa yang memohon surga kepada Allah tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah ia ke surga’, dan siapa yang berlindung dari neraka tiga kali, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah ia dari neraka. (Diriwayatkan At-Tirmidzy, Ibnu Majah, An-Nasa’y dan Ibnu Hibban).
Hendaklah kalian senantiasa memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Karena Allah telah menyediakan neraka itu bagi orang-orang kafir. Namun orang-orang yang durhaka juga akan dilemparkan ke sana. Allah telah menyampaikan peringatan dan ancaman, menurunkan ayat-ayat pemberi keterangan di dalam Al-Qur’an, menyampaikan gambaran tentang tempat tinggal yang menakutkan dengan siksaan di dalamnya. firman-Nya,
“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan, jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. “ (Al-Kahfi: 29)
“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut Seperti mendidihnya air yang sangat panas. Peganglah dia kemudian seretlah dia ketengah-tengah neraka. “ (Ad-Dukhan: 43-47).
“Dan, golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam siksaan angin yang sangat panas dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. “ (Al-Waqi’ah: 41-43).
“Kemudian sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perut kalian dengannya. Sesudah itu kalian akan meminum air yang sangat panas. Maka kalian minum seperti onta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pernbalasan.” (Al-Waqi’ah: 51-56).
“(Allah befirman), ‘Pegang!ah ía lalu belenggulah tangannya ke lehernya’. Kemudian masukkanlah ía ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah ía dengan rantai yang panjangnya tujuh puIuh hasta. Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar” (Al-Haqqah: 30-33).
“Dan, kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari peIangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (Ibrahim: 49-50) Allah telah menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa sehingga begitu jelas dan tanda-tandanya tampak di depan mata, agar kita tidak lagi mempunyai hujjah atau alasan di hadapan Allah kelak. Allah telah mengingatkan tentang neraka kepada kita, begitu pula peringatan yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, agar kita berusaha menyelamatkan diri dan neraka itu. Jika kita hidup dalam kelalaian, tidak tahu apa yang dikehendaki dan diri kita dan apa yang disiapkan bagi kita, maka yang demikian ini sama dengan keadaan orang-orang yang lalai, yang dijadikan Allah lebih buruk keadaannya daripada hewan dan lebih sesat jalannya. Marilah kita simak firman Allah yang menggambarkan suatu kaum yang dijadikan sebagai bahan bakar neraka Jahannam,
“Dan, sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mernpunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A raf: 179).
Mereka lebih sesat dari binatang, karena binatang tidak diberi akal dan karunia lain seperti yang diberikan kepada mereka. Kitab tidak diturunkan kepada binatang, rasul tidak diutus kepada binatang, dan binatang tidak dijadikan sebagai khalifah di muka bumi serta tidak dimuliakan dengan akal sebagai Allah memuliakan manusia dengan akal itu. Binatang melaksanakan misinya sebagai tunggangan, diperah air susunya, untuk membajak tanah dan mengairi. Sementara risalah manusia ialah menyembah Allah. Jika dia tidak melaksanakan risalah ini, meskipun Allah telah memberinya berbagai macam potensi, kekuatan dan karunia, berarti dia lebih sesat jalannya daripada binatang, lebih buruk kedudukannya daripada binatang. Karena itu Allah menjadikan mereka sebagai bahan bakar neraka Jahannam. Rahasia dari semua ini ialah karena mereka lalai.
Mata hati mereka menjadi buta karena syahwat dan syub hat. Mereka hidup tanpa mengetahui mana depan dan mana belakang, mana kiri dan mana kanan. Pandangan mereka buta dan telinga mereka tuli dari kebenaran.
Wahai saudara-saudaraku sesama Muslim! Jadilah kalian seperti Ibadurrahman, pusatkan pandangan ke hari akhirat, niscaya sekian banyak masalah akan terpecahkan, urusan dunia menjadi ringan, setiap masalah yang sulit menjadi mudah dan setiap hak diberikan kepada orang yang berhak menerimanya.
Umar bin A1-Khaththab Radhi yallahu Anhu berkata, “Siapa yang takut kepada Allah tidak terganggu oleh kesulitannya dan siapa yang bertakwa kepada Allah tidak akan berbuat semaunya sendiri. Sekiranya tidak ada hari kiamat, maka urusannya tidak seperti yang kalian lihat.” Artinya, setiap manusia akan berbuat apa pun yang dikehendaki dan diinginkannya. Tetapi di sana ada kiamat dan hisab, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada seorang budak wanita, “Kalau tidak karena qishash, aku benar-benar akan memukulmu dengan siwak ini.”
Kita di dunia ini tidak kekal. Kita hanya sekedar sebagai tamu yang sebentar lagi akan beranjak pergi. Setiap orang di antara kita adalah musafir yang sedang menunggu alat transportasi, untuk memindahkan kita ke ternpat lain, ke tempat tinggal yang abadi. Kita berada di stasiun peristirahatan, dan setelah itu semua orang akan pergi meniti jalannya masing-masing ke tempatnya yang asli, bisa ke surga dan bisa ke neraka. Suatu kali Al-Hasan Al-Bashry berjalan melewati seorang pemuda yang sedang tertawa terpingkal-pingkal. Maka dia berkata kepada pemuda itu, ‘Hai anak muda, mengapa engkau tertawa terpingkal-pingkal seperti itu? Apakah engkau tahu akan menerima kitabmu dengan tangan kanan atau tangan kin?”
“Tidak,” jawab pemuda itu.
Al-Hasan bertanya, ‘Apakah engkau merasa yakin dapat menyeberangi ash-shirath?”
“Tidak,” jawabnya.
Al.-Hasan bertanya lagi, “Apakah engkau tahu akan terjerumus ke neraka ataukah selamat darinya?”
“Tidak,” jawabnya.
“Lalu mengapa engkau tertawa terpingkal-pingkal?” tanya Al-Hasan yang membuat pemuda itu pun menangis menyesali perbuatannya. Maka buat apa manusia Iebih banyak tertawa dalam kesenangan dan canda tawa? Bukan berarti manusia harus terus-menerus menangis. Tapi hendaknya manusia ingat hari akhirat dari waktu ke lain waktu, dari hari ke lain hari. Maka hendaklah engkau sekalian senantiasa mengingat akhirat dan janganlah urusan akhirat ini diabaikan begitu saja dan dilalaikan. Kita harus selalu mengingat akhirat agar hidup kita menjadi lurus dan amal kita menjadi lempang.
Ya Allah, kami memohon surga kepada-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dan neraka. Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu dan apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan dan perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan dan penbuatan.






sufimuda berkata
Assalamu’alaikum wr.wb
Salam kenal, mudah2an lewat forum ini kita bisa saling bersilahturahmi…
Beribadah karena takut kepada neraka adalah beribadahnya seorang budak, beribadah yang sebenarnya adalah menyembah Allah SWT atas dasar cinta kepada-Nya, dapat dibaca artikel tentang keihklasan beribadah di http://sufimuda.wordpress.com
Mohon dikoreksi jika komentar saya salah
Wasalammu’alaikum wr.wb
warmansaja berkata
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dari keluargamu dan api neraka yang bahan bakarnya adalah man usia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasan, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).