Menuju Makrifatullah

Mencari Jatidiri sebagai Hamba

Yang beriman yang bikin aman

Ditulis oleh warmansaja di/pada 3 Juli 2008

Suatu ketika Rasulullah Saw. berkata, “Demi Allah, dia tidak beriman!” Itu diulanginya sampai tiga kali. Seorang sahabat Nabi bertanya, “Siapa dia (yang tidak beriman itu), ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (HR. Bukhari).  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Takut Neraka

Ditulis oleh warmansaja di/pada 30 Juni 2008

Marilah kita hidup bersama Ibadurrabman, bersama akhlak yang mereka iniliki, yang Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Firman-Nya, “Dan, hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan, orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan, orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al-Furqan: 63-66).

Allah mensifati hamba-hamba ini sebagai berikut: 1. Berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan ini merupakan keadaan di dalam diri mereka. 2. Mengucapkan kata-kata yang baik jika mereka disapa orang-orang yang bodoh. Ini merupakan keadaan mereka bersama orang lain. 3. Melalui waktu malam hari dengan bersujud dan berdiri menighadap Rabb mereka. Ini merupakan keadaan bersama Allah. Di kala orang-orang lain lalai dan tidur pulas, mereka itu justru bangun, shalat menghadap kepada Allah. Firman-Nya,

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18).
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | yang berkaitan: , , , , , , | Tidak ada komentar »

MEMOHON KEBAIKAN BAGI ISTERI DAN KELUARGA

Ditulis oleh warmansaja di/pada 30 Juni 2008

Wahai saudara-saudaraku sesama Muslim! Marilah kita hidup bersama Ibadurrahman, yaitu orang-orang yang dimuliakan Allah dan yang sifat-sifatnya telah disebutkan di dalam Kitab-Nya. Kali ini kita akan membicarakan salah satu sifat mereka dan merupakan sifat yang terakhir dari beberapa sifat, sebagaimana yang telah difirmankan Allah,

“Dan, orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’,” (Al-Furqan: 74). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Bertengkar dengan indah

Ditulis oleh warmansaja di/pada 24 Juni 2008

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah…..

Selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | yang berkaitan: , , , , , , | Tidak ada komentar »

Menemukan dompet

Ditulis oleh warmansaja di/pada 23 Juni 2008

Sidiq adalah seorang anak yang sholeh. Ia rajin sholat dan ngaji. Sidiq juga anak yang baik hati dan jujur. Jum’at siang, Ia pulang sekolah berjalan bersama Aziz, Fadil dan Ditya. Di tengah jalan Sidiq menemukan sebuah tas cokiat.

Sidiq dan teman-temannya berhenti di pos ronda di pinggir jalan. Sidiq membuka tas dan melihat isinya. “Ada dompetnya?” kata Sidiq sambil mengambil dompet warna hitam.

“Hah, ada uangnya banyak. Kita beruntung menemukan tas ini. Uangnya bisa kita bagi-bagi,” kata Ditya gembira.

“Iya itu, uangnya banyak sekali. Wah, ada 20-an ribunya banyak, ada 50-an ribu, malah ada 100-an ribunya juga. Asyik nih! ucap Fadil sambil senyum-senyum.

“Pokoknya kita bagi lho, Diq!” Aziz ikut berbicara.

“Sebentar teman-teman, uang ini kan bukan milik kita. Kita kembalikan saja kepada pemiliknya?” kata Sidiq. “Selain ada uang, di tas ini juga ada KTP, SIM, buku catatan,” sambung anak jujur itu.

Sidiq membaca KTP yang ada di tas itu. Namanya Siti Zulaikha, alamat: Kampung Melati. Sidiq mengajak teman-temannya mengembalikan dompet itu, besok kan Ahad.

“Nggak usah Diq, uangnya kita bagi saja!” kata Fadil. “Hiya, kita jajan yang enak-enak, bisa beli mainan,” tambah Ditya.

“Kita tidak boleh begitu. Ustadz TPA kita sudah mengajarkan, kita harus jadi anak baik dan jujur,”kata Sidiq menyadarkan teman-temannya.

“Lho, kita kan tidak mencuri. Cuma menemukannya di jalan,” ujar Fadil tak mau kalah. Ditya juga ikut ngotot.

Aziz yang sejak tadi banyak diam kemudian ikut usul. Ia bilang, “Begini saja, kalau Sidiq mau ngembalikan tas itu ya silakan. Sidiq nggak mau ngambil uangnya ya tak apa-apa. Tapi saya, Fadil dan Ditya minta bagian uangnya.” Fadil dan Ditya menyetujui.

“Wah, gimana ya?” Sidiq ragu.

“Pokoknya tetap minta bagian. Semua kan ikut menemukan,” kata Aziz. Sidiq jadi bingung..

“Sekarang kita pulang saja dulu. Tasnya dibawa pulang Sidiq. Nanti sore kita ke rumah Sidiq untuk minta bagian uang,” ucap Fadhil.

Aziz, Fadil dan Ditya berjalan pulang. Tinggallah Sidiq sendirian. Ia masih bingung.

Untuk didiskusikan bersama anak :
Jika kamu menjadi Sidiq, tindakan apa yang kamu lakukan?

Ditulis dalam cerita | yang berkaitan: , , , , | Tidak ada komentar »

24 rekor dunia untuk Indonesia

Ditulis oleh warmansaja di/pada 22 Juni 2008

Ditulis dalam pendidikan | yang berkaitan: | Tidak ada komentar »

Mus’ab bin Umair

Ditulis oleh warmansaja di/pada 22 Juni 2008

Meninggalkan kemewahan dunia demi menggapai Surga. Itulah yang dilakukan Mus’ab bin Umair ketika masuk Islam. Dia pemuda kota Mekkah yang didambakan para ibu agar menjadi menantunya. Di samping tampan, perilakunya juga baik, murah senyum dan sopan, idaman dan pujaan para wanita. Hal itu dapat dipahami karena Mus’ab anak orang berada. Kedua Orang-tuanya kaya raya. Ia juga sangat dimanja. Apa pun yang ia minta, selalu dituruti kedua orang tuanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Tokoh | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

pencuri terong

Ditulis oleh warmansaja di/pada 21 Juni 2008

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami’ At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam cerita | yang berkaitan: , , , , , | 1 Komentar »

Perkembangan Moral

Ditulis oleh warmansaja di/pada 21 Juni 2008

Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental of Model of Moral Think and Choice in the Years 10 to 16, seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995), tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut: Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam pendidikan | yang berkaitan: , , | Tidak ada komentar »

Menjadi Sahabat Yang Menyenangkan

Ditulis oleh warmansaja di/pada 16 Juni 2008

Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Allah Swt., Zat Yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia.

Hampir setiap Mukmin mempunyai harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakinah mawaddah warahmah. Namun, sebagian orang menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang tidak gampang. Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya.  Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »